Cak Imin: Jangan Mau Suara Dibeli
Pasangan capres-cawapres nomor urut satu ini kemudian melaju ke Pasuruan untuk berkampanye di Stadion Untung Suropati, yang disesaki puluhan ribu warga. Kali ini Cak Imin yang meminta rakyat untuk solid.
“Rakyat jangan mau suaranya dibeli karena itu hanya menguntungkan oligarki. Alhamdulillah kita kuat imannya, tidak bisa dibeli dan dirayu-rayu,” ujarnya.
Dengan guyonan ala Jawa Timur, Cak Imin bertanya “ini sambatnya orang Pasuruan, sembako mahal, cari pekerjaan sulit, mau dilanjutkan?” Yang langsung dijawab “tidak!”
“Kita butuh perubahan. Perubahan ini sudah lama diimpikan oleh para ulama,” ujarnya.
Kampanye ini dimeriahkan dengan deklarasi dukungan kelompok warga yang disebut “Rhomais” atau penggemar Raja Dangdut Rhoma Irama. Musisi lawas berusia 77 tahun itu tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya melihat pembacaan deklarasi yang diikuti dengan praktik mencoblos surat suara.
Kampanye Format Town Hall di Surabaya
Tanpa membuang waktu, Anies dan Cak Imin melanjutkan perjalanan ke Surabaya dan berbicara di DBL Arena Surabaya. Panitia pelaksana mengatakan meskipun DBL Arena sedianya berkapasitas 6.000 orang, tetapi lebih dari 20.000 orang memadati kawasan itu, di dalam dan luar gedung. Anies dilaporkan sempat menemui kesulitan untuk memasuki panggung utama karena tertahan massa. Namun setelah ia menggunakan bahasa isyarat “saatnya perubahan” dengan melihat jam tangan, massa berangsur-angsur memberinya jalan.
“Surabaya dahsyat! Ini rekor ‘Desak Anies’ terbesar. Belum pernah ada yang sebesar ini. Pendaftar mencapai 13.500 saat dihentikan. Kalau tidak dihentikan, entah berapa yang mendaftar,” ujarnya membuka kampanye Jumat (9/2) malam.
Berbeda dengan dua pasangan capres-cawapres lainnya, Tim Pemenangan Anies – Cak Imin senantiasa berupaya memilih cara berkampanye dengan format town hall, yang membuat keduanya bisa berdialog dengan warga yang datang.
“Kita tidak berbicara dengan lisan. Kita berbicara dengan hati,” ujar Anies untuk mengapresiasi ribuan orang yang tidak dapat masuk ke dalam gedung DBL Arena tetapi tetap bertahan di luar.
Dalam wawancara dengan VOA di Washington DC, pada Januari lalu, Co-Captain Tim Pemenangan Anies – Cak Imin, Tom Lembong, mengatakan mereka memilih format kampanye seperti ini karena pihaknya percaya dengan engagement atau dialog yang lebih dekat.
“Kami sangat percaya pada engagement, bersilaturahmi yang lebih dari sekedar seremonial, tapi benar-benar dialog. Itu sebabnya kami punya forum ‘Desak Anies,’ ‘Slepet Imin,’ dan ‘Locker Room Timnas’. Ini luar biasa sekali. Kami senang ketika ada pendukung paslon sebelah yang juga ikut hadir, mendesak dan mempertanyakan, menagih janji-janji kami, apakah sesuai fakta dan realitas,” ujar Tom saat itu.




