Debat Tidak Berdampak pada Pemilih
Peneliti dari Saiful Mujani and Consulting (SMRC) Saidiman Ahmad menilai debat capres/cawapres seharusnya memiliki pengaruh terhadap pemilih. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Substansi debat yang tidak sampai ke publik menjadi persoalannya. Lembaganya, kata Saidiman, menemukan di dalam survei bahwa isu-isu yang diangkat oleh capres/cawapres umumnya tidak diketahui oleh publik.
Survei yang dilakukan lembaganya pada awal Desember terkait program-program apa saja yang diapresiasi atau dianggap baik oleh publik menunjukkan bahwa 40 hingga 50 persen publik menyatakan program satu keluarga satu sarjana, dan program perlindungan ibu dari kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dinilai bagus dan dibutuhkan masyarakat. Namun mereka tidak mengetahui program-program tersebut diusulkan oleh siapa.
“Tetapi ketika ditanya apakah mereka tahu bahwa program perlindungan ibu dari KDRT adalah program yang dikeluarkan Anies, itu di bawah 20 persen yang tahu itu program Anies. Atau program satu keluarga satu sarjana, itu diapresiasi 48 persen menyatakan itu program yang dibutuhkan publik. Tetapi ketika ditanya apakah mereka tahu itu program dari Ganjar? Hanya di bawah 20 persen yang menyatakan tahu itu program Ganjar, sehingga tampak (debat) tidak punya dampak pada akhirnya,” jelas Saidiman.
Dia menduga saat menonton debat, publik tidak memahami substansi isu yang dibahas.
Lebih jauh Saidiman menjelaskan bagaimana performa capres nomor urut dua, Prabowo Subianto, dalam debat-debat sebelumnya dinilai lemah; tetapi survei menunjukkan dukungan publik pada Prabowo tetap stabil, atau bahkan menguat. Itu artinya tidak ada pengaruh debat (pada elektabilitas) Prabowo,” ujarnya.






