Debat Terakhir: Tiga Capres Adu Strategi Meningkatkan Harapan Hidup

Ketiga pasangan Capres dan Cawapres berpegangan tangan dan berpose bersama usai debat terakhir di Jakarta Convention Center di Jakarta, 4 Februari 2024. (Foto: Yasuyoshi CHIBA/AFP)
Ketiga pasangan Capres dan Cawapres berpegangan tangan dan berpose bersama usai debat terakhir di Jakarta Convention Center di Jakarta, 4 Februari 2024. (Foto: Yasuyoshi CHIBA/AFP)

Anies Soroti Kinerja Puskemas

Sementara capres nomor urut satu, Anies Baswedan, menyoroti kinerja puskemas yang saat ini masih menangani hal-hal yang bersifat kuratif, padahal idealnya menjalankan program promotif, preventif, dan kuratif secara seimbang. Persoalan kesehatan sedianya tidak saja ditangani oleh Kementerian Kesehatan, tetapi lintas sektor, tambah mantan Rektor Universitas Paramadina ini.

Bacaan Lainnya

“Unsur pembangunan kesehatan ialah lintas sektoral supaya anggaran tidak hanya ada pada dinas kesehatan, akan tetapi pada semua bidang terkait dengan upaya preventif dan promotif,” kata Anies.

Prabowo Kritik Kurangnya Dokter

Calon presiden nomor urut dua, Prabowo Subianto, menilai salah satu masalah kesehatan yang membuat tingkat harapan hidup warga Indonesia menjadi salah satu yang terendah di ASEAN, adalah karena kurangnya dokter. Ia mencontohkan Atambua, yang seharusnya memiliki 16 dokter, tetapi kini hanya ada satu dokter yang berdinas. Indonesia kekurangan 140 ribu dokter, tegasnya. Ia juga menyoroti kurangnya alat kesehatan yang memadai.

“Jadi solutifnya demikian. Dan yang paling penting dalam preventif adalah makan bergizi untuk anak-anak dan ibu-ibu melahirkan. Makan bergizi ini meningkatkan daya tahan, imunitas dan mencegah penyakit,” ujarnya.

Pengamat: Revitalisasi Puskesmas sebagai Ujung Tombak Kesehatan

Pengamat kesehatan yang juga seorang dokter, Handrawan Nadesul, menilai jawaban para capres mengenai rendahnya harapan hidup warga Indonesia itu masih bersifat normatif. Hal paling penting dan segera yang dibutuhkan warga Indonesia untuk meningkatkan angka harapan hidup – dan kualitas hidup – adalah revitalisasi puskesmas. Ini adalah ujung tombak kesehatan, ujarnya.

Sebenarnya pembangunan kesehatan Indonesia sejak awal, tambahnya, adalah preventif-promotif, namun implementasinya di lapangan ternyata lebih kuratif karena memang dokter lebih sibuk melayani seolah puskesmas programnya hanya kuratif.

“Padahal puskesmas itu ada 12 program yang sebagian besar preventif seperti pelayanan ibu anak (vaksinasi/imunisasi), penyuluhan dan lainnya. Itu semua preventif promotif, cuma implementasinya lebih kuratif karena pasien bolak balik dengan penyakit yang sama karena tidak diberikan edukasi. Jadi puskesmas yang berhasil adalah yang pengunjungnya semakin sedikit. Kalau puskesmas pengunjungnya banyak yang berobat berarti puskesmas ini tidak membina masyarakat yang menjadi tanggung jawabnya,” ungkap Nadesul.

Ditambahkannya, berapapun anggaran kesehatan yang dialokasikan, tidak akan meningkatkan derajat kesehatan jika orientasi program-programnya bukan soal preventif-promotif.

Total Views: 924

Pos terkait