Hasbi mencontohkan tudingan Israel lainnya, soal pemenggalan kepadal 40 bayi oleh militan Hamas yang menyerang negaranya. Tudingan ini tidak pernah terbukti, dan akhirnya dibantah oleh Gedung Putih.
Israel juga pernah menuduh bahwa Rumah Sakit Indonesia di Bait Lahiya, di utara Jalur Gaza merupakan markas Hamas yang memiliki labirin terowongan. Tudingan ini juga tidak pernah terbukti, bahkan ketika tentara-tentara Israel menyerang dan menguasai rumah sakit ini.
Hasbi menilai tuduhan terbaru Israel soal 12 staf UNRWA yang terlibat dalam serangan ke negaranya pada 7 Oktober lalu itu bertujuan untuk memecah perhatian dari putusan sela Mahkamah Internasional ICJ pada hari yang sama, yaitu Sabtu 26 Januari, yang meminta Israel mencegah terjadinya genosida di Jalur Gaza.
Diwawancarai secara terpisah, pengamat hubungan internasional dari Universitas Padjadjaran, Teuku Rezasyah, menilai penangguhan atau penarikan dana untuk UNRWA oleh sejumlah negara ini juga terkait dengan besarnya tekanan rakyat di negara masing-masing agar pemerintah mereka melakukan sesuatu untuk menghentikan perang Israel-Hamas.
Bagi rakyat Palestina, UNRWA – yang dibentuk pada tahun 1949 setelah Perang Arab-Israel – memainkan peran penting untuk menyediakan kamp pengungsi, layanan medis dan sosial, pendidikan dan berbagai upaya penyelamatan warga di saat krisis. UNRWA aktif membantu pengungsi Palestina di Jalur Gaza, Tepi Barat, Yerusalem Timur, Lebanon, Yordania dan Suriah. Ada sekitar 13.000 staf UNRWA, yang sebagian besar warga Palestina sendiri.
Anggaran operasi UNRWA pada tahun 2022 mencapai US$1,17 miliar. Sembilan puluh persen dari anggaran tersebut berasal dari sumbangan negara-negara anggota PBB, di mana Amerika, Jerman dan Uni Eropa adalah donor terbesar bagi UNRWA. Pada 2022, Amerika menyumbang dana US$340 juta untuk UNRWA. [voa]
Jaringan: VOA
Editor: Anton Marulam






