JENEWA, SWISS – Para pejabat PBB mengatakan warga Palestina di Gaza berada dalam keadaan putus asa setelah hampir tiga bulan dibombardir oleh serangan militer Israel dan dibiarkan tanpa persediaan makanan, air, dan obat-obatan yang cukup.
“Tingkat keputusasaan masyarakat sangat jelas dan terasa. Ini adalah situasi keputusasaan yang dapat Anda rasakan, yang benar-benar dapat Anda sentuh dengan tangan Anda,” kata Andrea De Domenico, kepala Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) di wilayah pendudukan Palestina.
Berbicara dari Yerusalem kepada wartawan di Jenewa pada hari Jumat (12/1/2024), De Domenico mengatakan ratusan ribu warga Palestina berdesakan di ruang yang semakin kecil dan terpaksa mendirikan tempat penampungan sementara dalam kondisi yang penuh sesak, tidak sehat, tanpa toilet atau fasilitas dasar lainnya.
“Tidak ada pelayanan publik. Kurangnya tempat berlindung, kekurangan air, kekurangan makanan, dan kurangnya kesehatan. … Tekanan yang tinggi ini semakin berubah menjadi meningkatnya ketegangan, sementara PBB dan komunitas kemanusiaan tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan dasar mereka,” ungkapnya.
“[Warga Palestina yang putus asa di Gaza] sejauh ini tidak agresif, namun ketegangan ini akan meningkat jika kita tidak meningkatkan operasi kita,” lanjutnya, sambil mencatat bahwa ketika truk pasokan melintasi perbatasan ke Gaza, warga Palestina akan mendatangi truk tersebut, mengucapkan terima kasih atas kehadiran (bantuan) PBB dan kemudian “mengambil apa pun yang mereka bisa agar mereka dan keluarga mereka dapat bertahan hidup.”
Perwakilan OCHA mengatakan bahwa para petugas mereka di lapangan melaporkan bahwa “wajah orang-orang yang datang ke truk (bantuan)… jelas-jelas adalah wajah orang-orang yang kelaparan.”





