Sejumlah Pihak Sayangkan Banyak Isu Penting Tidak Muncul dalam Debat Capres ke-3

Kandidat presiden Indonesia dari kiri: Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo, dan Anies Baswedan saat tampil dalam debat presiden ketiga pemilu 2024 di Jakarta, Minggu 7 Januari 2024.
Kandidat presiden Indonesia dari kiri: Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo, dan Anies Baswedan saat tampil dalam debat presiden ketiga pemilu 2024 di Jakarta, Minggu 7 Januari 2024.

“Kesimpulan saya adalah perdebatan dalam konteks alutsista, Pak Prabowo gagal di dalam menunjukkan gagasan, ide, dan persoalan dalam pertahanan dan keamanan. Yang saya lihat mohon maaf hanyalah jargon-jargon pertahanan kuat, pertahanan modern, cinta tanah air. Ya iya semua juga cinta tanah air, tapi how? Yang kita ingin tahu adalah how-nya? Dan itu tidak nongol di debat itu. Kenapa? Karena tidak bisa menjelaskan. Karena tidak punya konsep,” jelasnya.

Ditambahkannya ketiga paslon ini juga tidak mengangkat isu-isu penting lain yang sesuai dengan tema debat capres ketiga ini, termasuk reformasi peradilan militer tentang revisi UU nomor 31 tahun 1997, dan restrukturisasi komando territorial. Reformasi di tubuh kepolisian, menurutnya, dibahas secara umum oleh Ganjar.

Bacaan Lainnya

Dalam kesempatan yang sama, Manajer Kampanye Hutan dan Kebun Eknas WALHI Uli Arta Siagian menilai dalam debat capres tersebut seolah ada lubang yang sangat besar. Dalam konteks pertahanan dan keamanan, ketiga capres hanya mengangkat isu-isu besar seperti alutsista. Padahal, katanya, setiap harinya masih banyak masyarakat yang merasa tidak aman hanya karena ingin mempertahankan lahan mereka yang dirampas oleh pemerintah untuk proyek strategis nasional.

“WALHI juga melihat dalam beberapa waktu kedepan sebenarnya pertahanan dan keamanan atau semua negara itu akan berperang memperebutkan tiga hal, pangan, air dan energi yang menjadi kebutuhan esensial kita. Justru yang sebenarnya kita punya potensi itu, tetapi potensi itu kemudian dihancurkan sendiri oleh pengurus negara lewat semua instrumen kebijakannya. Contohnya, UU Cipta Kerja yang kemudian memberikan kemudahan untuk mengkonversi lahan-lahan produktif petani menjadi konsensi-konsensi,” ungkap Uli.

Prabowo dan Ganjar, kata Uli, juga berkali-kali mengatakan hilirisasi masih akan menjadi model ekonomi yang dipilih untuk menghantarkan Indonesia menjadi negara maju. Padahal banyak masalah baik konflik sosial dan lingkungan yang ditimbulkan dari hilirisasi tersebut.

“Kita tahu hanya selisih satu atau dua hari setelah debat kedua, ketika semua membanggakan hilirisasi, dua smelter kita meledak. Dan lebih dari 10 orang harus kehilangan nyawa. Jadi hilirisasi yang dibangga-banggakan itu dibangun di atas air mata, penderitaan, dan nyawa yang hilang. Hak untuk merasa aman dan nyaman itu hilang,” jelasnya.

Total Views: 574

Pos terkait