Ilmuwan Sebut Upaya Konservasi di Indonesia Terancam

Dokter hewan Yenni Saraswati dari Program Konservasi Orangutan Sumatera (SOCP) memeriksa kondisi orangutan Sumatra yang terluka yang ditemukan oleh aktivis lingkungan di perkebunan kelapa sawit di desa Rimba Sawang, Aceh. (Foto: AP)
Dokter hewan Yenni Saraswati dari Program Konservasi Orangutan Sumatera (SOCP) memeriksa kondisi orangutan Sumatra yang terluka yang ditemukan oleh aktivis lingkungan di perkebunan kelapa sawit di desa Rimba Sawang, Aceh. (Foto: AP)

Dalam artikel di “Curent Biology”, Laurance dan rekan-rekan sejawatnya menyoroti kendala yang dihadapi ilmuwan Indonesia dan peneliti internasional dalam melakukan kajian atas topik sensitif terkait konservasi. Hasil penelitian mereka selalu harus mendapat persetujuan pemerintah terlebih dahulu sebelum dapat dipublikasikan. Tak heran, ada peneliti yang merasa tertekan dan terpaksa membatalkan rencana mempublikasikannya.

Sejumlah peneliti Indonesia, menurut Laurance, tidak jarang menolak untuk ikut menulis dengan tim internasional mengenai konservasi hutan karena kekhawatiran bahwa hal tersebut dapat berdampak negatif dan mempengaruhi pendanaan, izin penelitian, atau peluang kontrak komersial mereka di Indonesia.

Bacaan Lainnya

Menurut Laurance, ada banyak ketidaksepakatan antara ilmuwan konservasi dan pemerintah Indonesia yang memicu friksi itu. Beberapa di antaranya adalah seberapa parah hutan mengalami kehancuran, apa penyebab deforestasi, dan seberapa besar dampak kerusakaan hutan itu terhadap spesies-spesies yang terancam dan sangat terancam punah.

Laurance, yang juga menjabat sebagai Direktur Center for Tropical Environmetal and Sustainability Science di James Cook University, mengatakan, sudah jadi pemahaman umum bahwa tingginya laju deforestasi di Indonesia menurunkan populasi spesies-spesies tersebut. Contoh nyata, menurut Laurance, tercermin dari dari populasi orangutan Tapanuli, badak Sumatra, gajah Sumatra, gajah Kalimantan dan harimau Sumatra.

Lebih jauh Laurance mengatakan, sikap tidak kooperatif pemerintah tidak bisa dibiarkan berlarut-larut mengingat hutan-hutan Indonesia berada dalam ancaman besar.

“Saya bayangkan hutan di Indonesia seperti samsak tinju, dipukul di sana sini pada saat bersamaan,” ujarnya.

Selain deforestasi yang menyusutkan habitat satwa liar, kata Laurance, hutan Indonesia juga kerap menjadi arena perburuan liar, dan kerap menghadapi fenomena alam yang disebut El Nino yang bisa menyebabkan kemarau dan kebakaran.

Terkait perburuan liar, menurut Laurance, banyak satwa liar– termasuk yang dilindungi – “dipanen” dari Indonesia oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dan dijual ke luar negeri. Salah satu pasar utamanya adalah Tiongkok, dengan barang yang diekspor termasuk trenggiling, cula badak, dan tulang harimau yang biasanya dimanfaatkan sebagai obat-obatan tradisional.

Total Views: 936

Pos terkait