Pemerintah awalnya ingin membeli 12 Mirage bekas itu untuk menutupi kekosongan penjagaan wilayah udara Indonesia, sambil menunggu kedatangan sebagian dari 42 jet tempur Rafale yang telah dibeli pada 2022 seharga $8,1 milliar. Direncanakan pesanan pesawat Dassault Rafale baru tiba di Tanah Air lima tahun lagi.
“Sebagai gantinya, kita kembali ke upaya retrofit. Artinya kita memperbarui sistem-sistem pesawat lama kita supaya layak tempur. Misalnya F-16 kita, sistem-sistemnya diperbarui agar layak tempur,” ujarnya seraya menambahkan hal ini sebenarnya sudah dilakukan secara rutin.
Dahnil mengakui potensi penurunan kapasitas pertahanan udara Indonesia karena penundaan rencana pembelian 12 Mirage, yang sedianya menjadi bagian dari upaya untuk membentuk postur ideal untuk sistem pertahanan udara Indonesia.
Pengamat: Anggaran Pertahanan Terbatas
Menurut pengamat pertahanan sekaligus salah satu pendiri Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi, Indonesia terpaksa harus membeli Mirage 2000-5 yang sudah tua dan bekas dipakai Qatar karena anggaran pertahanan terbatas.
Idealnya Indonesia membeli pesawat tempur baru untuk memperkuat sistem pertahanan udara, tetapi tak bisa dicapai karena keterbatasan anggaran, ujarnya.
Beberapa negara sempat mengungkapkan keinginan mereka menawarkan pesawat tempur bekas kepada Indonesia. Namun, perang Rusia-Ukraina membuat mereka mempertimbangkan kembali tawaran itu.
“Kenapa di masa damai itu justru kita harus belanja (alutsista), karena kalau pas perang orang pada nahan atau kalah cepat sama negara-negara lain, udah nggak kebagian kita. Sementara kita sedang sangat butuh karena kapabilitas (pertahanan) udara kita sedang lemah karena ada beberapa (jet tempur) yang harus dipensiunkan karena usia,” ujar Khairul.






