Dukungan AS
Pemungutan suara tersebut dijadwalkan digelar sehari setelah 12 utusan Dewan Keamanan mengunjungi perbatasan Rafah dan Gaza di sisi Mesir, satu-satunya tempat di mana bantuan kemanusiaan dan bahan bakar terbatas masuk. AS tidak mengirimkan perwakilannya dalam perjalanan tersebut.
Presiden AS Joe Biden, yang mendapat kecaman keras atas dukungannya terhadap tanggapan Israel terhadap serangan 7 Oktober, pada Senin (11/12/2023) mengatakan pada perayaan hari raya Hannukah di Gedung Putih bahwa komitmennya terhadap Israel “tidak tergoyahkan.”
“Saudara-saudara, jika tidak ada Israel, tidak akan ada orang Yahudi di dunia yang aman,” kata Biden. Dia juga menyinggung hubungannya yang rumit dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang menurutnya sedang berada dalam “keadaan sulit.”
Juru bicara Departemen Luar Negeri, Matthew Miller, mengatakan kepada wartawan pada Senin bahwa Israel bukanlah pengecualian bagi kebijakan AS yang menyatakan bahwa setiap negara yang menerima bantuan senjatanya harus mematuhi hukum perang.
“Kami memantau segala sesuatu yang terjadi dalam konflik ini,” kata Miller. “Kami terlibat dalam pembicaraan dengan pemerintah Israel.”
Ketika perang semakin intensif, cara dan lokasi penggunaan senjata Israel dari AS menjadi sorotan, meski pihak AS menyatakan tidak ada rencana untuk memberlakukan persyaratan pada bantuan militer kepada Israel atau mempertimbangkan penahanan sebagian dari bantuan tersebut.
Washington mengatakan gambar pria-pria Palestina yang ditahan di Gaza dengan hanya mengenakan pakaian dalam yang beredar di media sosial “sangat meresahkan.”
AS meminta Israel untuk mengklarifikasi keadaan seputar foto-foto tersebut, tambah Miller. Israel berkilah para pria itu ditelanjangi untuk memastikan mereka tidak menyembunyikan bahan peledak atau senjata.
Gedung Putih juga mengatakan pada Senin bahwa pihaknya prihatin dengan laporan bahwa Israel menggunakan amunisi fosfor putih yang dipasok AS dalam serangan Oktober di Lebanon selatan dan sedang mencari informasi lebih lanjut.
Amunisi tersebut, yang secara legal dapat digunakan di medan perang untuk membuat tabir asap dan kegunaan lainnya, dapat menyebabkan luka bakar yang serius.
Israel mengatakan tuduhan Human Rights Watch bahwa mereka menggunakan amunisi fosfor putih di Gaza dan Lebanon “benar-benar salah.”





