Bagaimana Hamas Membangun “Pasukan Kecil” Menghadapi Zionis Israel

Asap mengepul selama serangan udara Israel di Kota Gaza pada 12 Oktober 2023 saat pertempuran sengit antara Israel dan gerakan Hamas berlanjut selama enam hari berturut-turut. (Foto: AFP)
Asap mengepul selama serangan udara Israel di Kota Gaza pada 12 Oktober 2023 saat pertempuran sengit antara Israel dan gerakan Hamas berlanjut selama enam hari berturut-turut. (Foto: AFP)

Pendiri Hamas Syeikh Yassin

Gagasan berdirinya organisasi Hamas – yang berarti semangat dalam bahasa Arab – mulai terbentuk pada 10 Desember 1987. Saat itu beberapa anggota Ikhwanul Muslimin berkumpul sehari setelah insiden sebuah truk tentara Israel menabrak sebuah mobil yang membawa empat pekerja harian Palestina dan menewaskan semuanya. Aksi tersebut memicu protes, termasuk di antaranya pelemparan batu, pemogokan, dan penutupan di Gaza.

Bertemu di rumah Syekh Ahmed Yassin, seorang ulama Muslim, mereka memutuskan untuk mengeluarkan selebaran pada 14 Desember yang menyerukan perlawanan ketika Intifada Pertama, atau pemberontakan, melawan Israel meletus. Seruan tersebut adalah aksi publik pertama grup tersebut.

Bacaan Lainnya

Setelah Israel menarik diri dari Gaza pada 2005, Hamas mulai mengimpor roket, bahan peledak dan peralatan lainnya dari Iran, kata sumber intelijen Barat. Peralatan militer tersebut dikirim melalui Sudan, diangkut dengan truk melintasi Mesir dan diselundupkan ke Gaza melalui labirin terowongan sempit di bawah Semenanjung Sinai, tambah mereka.

Aliran senjata, pelatihan dan dana juga mengalir dari Iran ke sekutu paramiliter regional lainnya, yang pada akhirnya memberikan pengaruh besar bagi Teheran di Lebanon, Suriah, Irak, Yaman dan Gaza.

Beberapa dari sekutu tersebut merupakan bagian dari “poros Syiah” yang terbentang dari paramiliter Syiah di Irak, Hizbullah di Lebanon, hingga kelompok minoritas Alawi yang berkuasa di Suriah, sebuah cabang dari Islam Syiah.

Organisasi yang berada di puncak jaringan milisi Iran adalah Hizbullah – yang didirikan di Kedutaan Besar Iran di Damaskus, Suriah, pada 1982 setelah Israel menginvasi Lebanon selama perang saudara pada 1975-1990.

Hizbullah mengebom sasaran-sasaran AS dan melakukan penyanderaan dan pembajakan, mengusir Israel dari Lebanon pada 2000 dan kemudian secara bertahap menguasai negara Lebanon.

Iran memanfaatkan kesempatan untuk membujuk Hamas pada 1992 ketika Israel mendeportasi sekitar 400 pemimpin Hamas ke Lebanon, kata sumber yang dekat dengan Hamas. Iran dan Hizbullah menjamu para anggota Hamas, berbagi teknologi militer dan melatih mereka membuat bom rakitan untuk serangan bunuh diri, tambah sumber tersebut.

Baraka, pejabat Hamas, mengatakan tujuan akhir serangan 7 Oktober terhadap Israel adalah untuk membebaskan 5.000 tahanan Palestina yang ditahan di penjara-penjara Israel. Mereka juga berhadap aksinya dapat menghentikan serangan Israel terhadap Masjid Al Aqsa, situs tersuci ketiga dalam Islam, dan mencabut blokade Gaza yang telah berlangsung selama 16 tahun.

Dia memperingatkan bahwa jika serangan darat Israel terus dilakukan, yang didukung oleh AS dan Inggris, perang tidak akan terbatas pada wilayah Gaza saja, tetapi juga berpotensi meluas menjadi konflik regional.

“Bukan hanya perang Israel di Gaza, ada perang Atlantik di Gaza dengan segala kekuatan,” ujarnya. “Akan ada garis depan baru,” katanya. [voa]

Jaringan: VOA
Editor: Anton Marulam

Total Views: 582

Pos terkait