Pertahanan yang Luar Biasa
Hamas, yang piagam pendiriannya pada 1988 menyerukan dihancurkannya Israel, disebut sebagai organisasi teroris oleh Israel, AS, Uni Eropa, Kanada, Mesir dan Jepang.
Bagi Iran, kehadiran Hamas justru membantu mereka dalam mewujudkan ambisi selama bertahun-tahun untuk mengepung Israel dengan legiun paramiliter, termasuk faksi Palestina lainnya dan Hezbollah Lebanon, menurut pejabat Barat. Dengan persenjataan canggih, mereka memiliki permusuhan jangka panjang terhadap pendudukan Israel di tanah Palestina.
Para pemimpin kelompok ini tersebar di negara-negara Timur Tengah termasuk Lebanon dan Qatar. Namun basis kekuatannya tetap di Gaza. Mereka mendesak warga Gaza untuk tidak mengindahkan seruan Israel untuk meninggalkan tanah air mereka menjelang gempuran invasi darat yang diperkirakan akan terjadi, menyusul pengeboman Israel selama berhari-hari yang merenggut sekitar 1.800 nyawa.
Dalam serangan mendadak pada 7 Oktober, yang merupakan pembobolan pertahanan Israel yang terburuk dalam 50 tahun terakhir, Hamas menembakkan lebih dari 2.500 roket. Pada saat bersamaan para anggotanya merangsek ke wilayah Israel dengan menggunakan paralayang, sepeda motor, dan kendaraan roda empat. Mereka membobol pertahanan Israel dan menghancurkan kota-kota dan wilayah pemukiman. Serangan itu menewaskan 1.300 orang dan menyandera puluhan orang.
Sumber yang dihubungi Reuters mengatakan bahwa meskipun Iran melatih, mempersenjatai, dan mendanai kelompok tersebut, tidak ada indikasi bahwa Teheran mengarahkan atau mengizinkan serangan tersebut.
“Keputusan, saat-saat kritis, semuanya berada di tangan Hamas – tetapi tentu saja kerja sama, pelatihan, dan persiapan semuanya berasal dari Iran,” kata sumber keamanan regional tersebut.
Teheran mengakui pihaknya membantu mendanai dan melatih Hamas. Namun, membantah terlibat dalam serangan tersebut, meski memuji serangan itu.
Pemimpin Hamas Ismail Haniyeh, mengatakan dalam sebuah wawancara dengan televisi Al Jazeera pada tahun lalu bahwa kelompoknya menerima sokongan di bidang militer sebesar $70 juta dari Iran. “Kami punya roket yang diproduksi di dalam negeri, tapi roket jarak jauhnya datang dari luar negeri, dari Iran, Suriah, dan lainnya melalui Mesir,” tambahnya.
Menurut laporan Departemen Luar Negeri AS pada 2020, Iran menyokong dana sekitar 100 juta dollar AS atau sekitar 1,57 triliun rupiah per tahun kepada kelompok-kelompok Palestina, termasuk Hamas, Jihad Islam Palestina, dan Front Populer untuk Komando Umum Pembebasan Palestina.
Sumber keamanan Israel mengatakan bahwa aliran dana Iran untuk sayap militer Hamas semakin deras, dari 100 juta dollar AS menjadi sekitar 350 juta dollar AS atau setara 5,5 triliun rupiah per tahun sejak tahun lalu.






