Pemerintah Indonesia masih mencari upaya untuk memuluskan investasi pabrik kaca di Pulau Rempang, Batam, Kepulauan Riau. Sementara masyarakat menunggu, sambil berharap relokasi tak dilakukan mesti tetap realistis menghadapi kenyataan.
VOA – Di tengah cuaca terik dan angin laut berhembus, FA dan sekitar sepuluh kawannya berkumpul di depan mushola kampung. Rempang, di mana FA tinggal, adalah pulau kecil yang menjadi bagian dari gugusan pulau-pulau di Batam. Dalam dua pekan ini, sebagaimana anak-anak Rempang lain, FA menjadi bagian tak terpisahkan dari konflik sebagai dampak Proyek Strategis Nasional (PSN) Rempang Eco City di kawasan itu. VOA hanya menyebut inisial demi keamanan narasumber kami ini pada saat sensitif di Rempang.
“Kami tak nak digusur. Kami nak sekolah ka sini. Kami nak ngaji ka sini. Kami nak main ka sini. Kalau digusur, lapangan ka sana tak luas, disini ramai orang,” kata FA dengan aksen Melayu yang kuat ketika ngobrol dengan VOA.
Rempang memang strategis karena terletak di segitiga emas, dekat dengan Singapura dan Malaysia. Luasnya sekitar 17 ribu hektar. Pemerintah mengklaim hanya kurang dari separuh daerah itu yang akan dikelola sebagai kawasan industri, wisata dan perdagangan dan hunian. Sisanya, akan dibiarkan menjadi hutan.
Pada tahap awal, menurut Menteri Investasi Bahlil Lahadalia, kawasan ini diminati perusahaan kaca terbesar di dunia asal China, Xinyi Group. Mereka berencana akan menggelontorkan investasi senilai U$11,5 miliar AS atau setara Rp174 triliun sampai dengan 2080.
“Jadi areanya itu kurang lebih sekitar 7.000 (hektare) yang bisa dikelola. Untuk kawasan industrinya, tahap pertama itu kita kurang lebih sekitar 2.000-2.500 hektare,” ungkap Bahlil dalam kunjungan ke Rempang 17 September 2023 lalu.






