Delapan Ribu Halaman Naskah
Sepanjang hampir satu bulan, tim telah mampu mendigitalisasi naskah-naskah kuno milik masyarakat secara pribadi, maupun milik kelembagaan. Naskah-naskah yang selama ini hanya tersimpan dan isinya seolah tak terjamah, pelan-pelan akan terbuka bagi publik, khususnya pengggemar naskah kuno.
Naskah-naskah yang didigitalkan antara lain adalah koleksi Museum Wayang Beber Sekartaji yang dikelola oleh Indra Suroinggeno di Bantul, Yogyakarta. Total ada 10 naskah berhasil diabadikan, terdiri dari tujuh koleksi lontar dan tiga manuskrip bermaterial kertas Eropa.
Tim juga berhasil mendigitalkan delapan naksah notasi seni karawitan karya empu gending Yogyakarta yaitu K.R.T. Wiroguno. Naskah-naskah itu tersimpan dan menjadi koleksi Pusat Kajian Arsip dan Dokumen Seni K.R.T. Wiroguno di kompleks Dalem Kaneman.
Lokasi lain yang menjadi tujuan misi adalah Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada. Di lokasi ini, tim mendigitalkan delapan naskah, dengan empat diantaranya lontar dan empat buah naskah bermaterial kertas.
Selain itu, upaya digitalisasi juga merambah koleksi naskah kuno milik masyarakat. Di kabupaten Gunungkidul, tim lapangan dari Komunitas Jangkah Nusantara bekerja sama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan pemerintah setepat.
Ada empat naskah koleksi masyarakat berhasil didigitalisasi di wilayah ini. Sementara di Kabupaten Sleman, masih di DI Yogyakarta, ada tiga naskah yang berhasil didigitalkan dari koleksi pribadi milik Sinarendra, seorang guru dan pegiat aksara Jawa. Dengan demikian, sepanjang Mei 2023, WILMA telah berhasil mendigitalkan 33 naskah dengan total lebih dari 8.000-an halaman di DI Yogyakarta.
Naskah-naskah itu yang tertua ditulis sekitar tahun 1800-an, sedangkan yang termasuk muda adalah karya tahun 1920-1930. Di Yogyakarta sendiri, masih sangat banyak naskah kuno yang tersimpan di rumah masyarakat, karena memang menjadi milik mereka.
Naskah kuno di Keraton, baik Kasultanan maupun Pakualaman, telah masuk dalam program digitalisasi. Sementara yang menjadi milik masyarakat, masih membutuhkan upaya lanjutan.
Selanjutnya, menurut Bagus, tim ahli konservasi fisik akan melakukan perawatan fisik untuk memulihkan kondisi manuskrip. Langkahnya adalah membersihkan, mereparasi, dan melindungi material manuskrip agar tetap awet dan terjaga.





