Para pemimpin negara demokrasi paling kuat di dunia yang dikenal dengan Kelompok Tujuh (Group of Seven/G7) memperingatkan China dan Korea Utara agar tidak membangun persenjataan nuklir mereka. Peringatan itu diserukan menjelang kedatangan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dalam konferensi tingkat tinggi (KTT) tersebut pada Sabtu (20/5) malam.
Fokus KTT G7 beralih ke Asia saat para pemimpin memperketat sanksi yang dimaksudkan untuk menghukum Moskow dan mengubah arah invasi ke Ukraina yang telah berlangsung selama 15 bulan. Jepang menegaskan bahwa keputusan Zelenskyy untuk menghadiri G7 secara langsung berasal dari “keinginan kuat” untuk berpartisipasi dalam pembicaraan yang akan mempengaruhi pertahanan negaranya dalam melawan Rusia.
Penasihat Keamanan Nasional Amerika Serikat (AS) Jake Sullivan mengatakan bahwa Presiden Joe Biden dan Zelenskyy akan terlibat langsung di KTT tersebut, sehari setelah Biden mengumumkan dukungannya untuk melatih pilot Ukraina dengan jet tempur F-16 buatan AS. Sebelumnya Washington juga telah menyediakan pesawat tersebut untuk Angkatan Udara Ukraina.
Para pemimpin dunia menghadapi serangkaian isu berisiko tinggi dalam KTT tersebut di tengah upaya mereka untuk mengatasi serangkaian kekhawatiran global yang menuntut perhatian mendesak, termasuk masalah perubahan iklim, kemiskinan dan ketidakstabilan ekonomi, proliferasi nuklir, dan yang terpenting: perang di Ukraina.
China, negara ekonomi nomor dua di dunia, menjadi penghubung dari banyak kekhawatiran tersebut.
Ada peningkatan kecemasan di Asia bahwa Beijing, yang terus membangun program bom nuklirnya, akan berupaya merebut Taiwan secara paksa, sehingga berpotensi memicu konflik yang lebih luas. China mengklaim pulau yang berpemerintahan sendiri itu sebagai wilayah kedaulatannya dan secara teratur mengirim kapal dan pesawat tempur ke wilayah di dekatnya.
Para pemimpin G7 mengeluarkan pernyataan yang memperingatkan bahwa China “mempercepat pembangunan persenjataan nuklirnya tanpa transparansi (atau) dialog yang berarti menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas global dan regional.”
Korea Utara, yang sudah menggenjot uji coba rudal untuk menyempurnakan program nuklir yang dimaksudkan untuk menarget daratan AS, harus benar-benar meninggalkan ambisi bom nuklirnya, kata para pemimpin.
“Termasuk uji coba atau peluncuran nuklir lebih lanjut yang menggunakan teknologi rudal balistik. Korea Utara tidak dapat dan tidak akan pernah memiliki status negara senjata nuklir di bawah perjanjian nuklir internasional,” kata pernyataan itu.
Lampu hijau untuk memberikan pelatihan F-16 kepada Ukraina adalah perubahan terbaru oleh pemerintahan Biden untuk mempersenjatai Kyiv dengan persenjataan yang lebih canggih dan mematikan, menyusul keputusan sebelumnya untuk mengirim sistem peluncur roket dan tank Abrams. AS bersikeras bahwa mereka mengirim senjata ke Ukraina untuk mempertahankan diri dan telah mencegah serangan oleh Ukraina ke wilayah Rusia.






