Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis di Universitas Islam Indragiri ini juga berpendapat, sebenarnya wacana Pemerintah Daerah Inhil untuk mengedepankan kelapa sudah benar, namun ia menyayangkan fakta di lapangan yang masih bertolak belakang dari wacana di atas kertas.
“Kita sudah apresiasi terhadap rencana Pemerintah Daerah mau perduli dengan kelapa, tapi yang kami tidak menyangka rencana tersebut tidak maksimal ke bawah dengan ditemukannya fakta di lapangan masih banyak kebun rusak parah sehingga dalam kesimpulan yang bisa diambil adalah menang di atas kertas tapi kalah dalam pertandingan. Dan yang kita takutkan lagi jangan-jangan dengungan ‘Hamparan Kelapa Dunia’ terpeleset jadi “Hamparan Kelapa Dunia Rusak”, itu yang kita ingatkan,” katanya lagi.
Kendati demikian, Zainal berharap sekali Pemerintah Daerah peduli terhadap nasib petani khususnya kelapa agar bisa kembali jaya dan bebas dari abrasi.
“Proses pembangunan gedung kita apresiasi lah, tapi untuk tahap sekarang kondisi kita baru saja mau pulih dari pandemi, ya seyogyanya kita kejar dulu pembangunan ekonomi. Karena di tempat kita mayoritas petani kelapa jadi sasaran yang harus dipulihkan adalah perkebunan kelapa. Terkait caranya itu tergantung kemahiran pemerintah, bisa lobi provinsi ataupun pusat,” ungkap Zainal.
Di sisi lain, Zainal membeberkan data kerusakan kebun di Indragiri Hilir terhitung di tahun 2022 ini ada ratusan hektar yang rusak.
“Catatan kita ratusan hektar yang sudah hancur karena abrasi, ada desa Kuala Selat, Concong, Sungai Bandung, dan lain-lain,” tutupnya. (Abd)






