Persaudaraan Menguat, Kirab Gunungan Guci 2026 Satukan Dua Tradisi di Lereng Slamet

Wakil Bupati Tegal, Akhmad Kholid beserta Forkopimda hadiri Ruwat Bumi guci, Selasa (16/04). (Foto: Jurnalterkini.id)

TEGAL, Jurnalterkini.id – Kirab gunungan kembali menjadi magnet utama dalam rangkaian Ruwat Bumi Guci 2026. Ribuan warga tumpah ruah mengikuti prosesi budaya yang sarat makna tersebut di kawasan wisata Guci, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, Selasa (16/6/2026) siang.

Gunungan yang berisi aneka sayuran, buah-buahan, palawija, hingga palapendem diarak dengan penuh khidmat sebelum akhirnya diperebutkan masyarakat. Tradisi yang telah diwariskan turun-temurun itu bukan sekadar seremoni budaya, melainkan mengandung filosofi mendalam tentang kebersamaan, rasa syukur, dan kepedulian terhadap alam.

Puncak rebutan gunungan berlangsung di panggung utama dekat Kantor UPT Pengelolaan Objek Wisata Guci. Ribuan warga dari Desa Guci, Kecamatan Bumijawa, dan Dukuh Pekandangan, Desa Rembul, Kecamatan Bojong, berbaur dalam suasana penuh kegembiraan.

Hadir pula Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman bersama jajaran pemerintah daerah yang turut menyaksikan prosesi sakral tersebut.

Ketua Masyarakat Adat Reksawana Guci, Sobirin (52), menjelaskan bahwa isi gunungan bukan dipilih tanpa alasan. Berbagai hasil bumi yang disusun dalam gunungan menjadi simbol kemakmuran sekaligus pengingat pesan para leluhur.

“Gunungan ini berisi pala pendem, palawija, dan pala gumantung. Pesan dari leluhur kami sangat jelas, yaitu manusia harus mau berbagi dengan sesama. Dari situlah lahir tradisi pawai gunungan,” ujarnya.

Menurut Sobirin, tradisi berebut gunungan yang selama ini menjadi daya tarik utama Ruwat Bumi Guci sejatinya merupakan bentuk sedekah kepada masyarakat. Setiap hasil bumi yang dibagikan mengandung doa dan harapan agar seluruh warga mendapatkan keberkahan serta rezeki yang melimpah.

“Ketika gunungan dibagikan, ada doa-doa yang dipanjatkan. Harapannya alam tetap lestari, manusia bisa hidup berdampingan dengan alam, dan semuanya diberikan keberkahan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa,” ucapnya.

Tidak hanya membagikan hasil bumi, rangkaian ritual juga diakhiri dengan pelepasan burung dan satwa sebagai simbol keharmonisan manusia dengan lingkungan. Tradisi tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga alam merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat Guci.

Sobirin menegaskan, Ruwat Bumi Guci bukan sekadar agenda budaya tahunan, melainkan amanat leluhur yang harus terus dijaga. Tradisi itu juga menjadi sarana pendidikan bagi generasi muda agar memahami pentingnya melestarikan budaya dan lingkungan.

“Kami meyakini ini adalah hal yang baik. Karena itu Ruwat Bumi Guci wajib dilaksanakan. Selain menjaga tradisi, ini juga menjadi pendidikan bagi kita semua untuk menghormati alam dan warisan leluhur,” tegasnya.

Dia menambahkan, berdasarkan wasiat leluhur, rangkaian Ruwat Bumi Guci dilaksanakan sejak tanggal 1 Suro hingga 10 Suro. Sementara ritual Mabag Suro digelar pada malam 1 Suro sebagai penanda dimulainya berbagai kegiatan spiritual dan budaya.

“Rangkaian kegiatan bisa dilakukan sebelum 1 Suro, tetapi puncaknya tetap pada malam 1 Suro. Bulan Suro adalah bulan yang penuh sejarah dan dimuliakan oleh Sang Pencipta. Karena itu kami berupaya menjaga amanat leluhur dengan melestarikan budaya dan alam semesta,” ungkapnya.

Sementara itu, Tetua Dukuh Pekandangan, Desa Rembul, Kecamatan Bojong, H. Dakot, menyebut filosofi berebut gunungan adalah upaya mencari keberkahan dari hasil bumi yang telah diberikan Tuhan kepada masyarakat.

“Isi gunungan berupa palawija, sayuran, dan buah-buahan melambangkan keberkahan. Masyarakat yang mendapatkan hasil gunungan berharap memperoleh rezeki dan kehidupan yang lebih baik,” ujarnya.

Dakot mengungkapkan, pelaksanaan Ruwat Bumi tahun ini menjadi momen bersejarah karena untuk pertama kalinya dua wilayah yang selama ini menggelar acara secara terpisah sepakat bersatu dalam satu perhelatan budaya.

“Tahun-tahun sebelumnya Dukuh Pekandangan dan Desa Guci melaksanakan sendiri-sendiri. Namun pada Suro 2026 ini kami sepakat menjadi satu. Ini bentuk persaudaraan yang semakin kuat,” ujarnya.

Menurutnya, penyatuan dua tradisi tersebut menjadi simbol kebersamaan dan harapan baru bagi masyarakat. Melalui doa bersama yang dipanjatkan dalam Ruwat Bumi Guci, warga berharap seluruh cita-cita, keselamatan, dan kesejahteraan masyarakat dapat dikabulkan oleh Allah SWT.

“Semoga doa warga dari dua desa yang dipanjatkan bersama-sama ini dikabulkan. Kami berharap keberkahan, keselamatan, dan kemakmuran selalu menyertai masyarakat,” ujarnya.

Wakil Bupati Tegal Ahmad Kholid saat mewakili Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman mengatakan, pelaksanaan Ruwat Bumi tahun ini memiliki makna yang jauh lebih mendalam dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Kita masih mengingat bagaimana beberapa waktu lalu kawasan wisata Guci menghadapi ujian berupa banjir bandang yang memberikan dampak bagi masyarakat maupun sektor pariwisata. Namun hari ini kita melihat semangat masyarakat yang luar biasa untuk bangkit dan kembali menata masa depan,” ujarnya.

Kholid mengatakan, Kirab Gunungan yang menjadi puncak kemeriahan Ruwat Bumi bukan sekadar tradisi turun-temurun. Gunungan yang berisi aneka hasil bumi, mulai dari sayuran, buah-buahan, palawija hingga hasil perkebunan, menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas limpahan rezeki sekaligus gambaran kekuatan ekonomi warga lereng Gunung Slamet.

Menurutnya, hasil bumi yang diarak dalam kirab tersebut menunjukkan kekayaan alam yang dimiliki Guci, kerja keras para petani, serta semangat masyarakat dalam menjaga produktivitas dan melestarikan kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.

“Kirab Gunungan yang kita laksanakan hari ini bukan hanya simbol rasa syukur, tetapi juga cerminan potensi besar masyarakat Guci. Di dalamnya tergambar kekayaan alam, kerja keras petani, dan semangat warga dalam menjaga tradisi,” pungkasnya. (Supriyadi)

Total Views: 8

Pos terkait