Tak hanya mereka saja ada juga dari Family Printing – Pamekasan. PAJ Digital Printing – Pamekasan. NARDHA Printing – Pamekasan dan Muza Print House – Pamekasan. Nah, dari total 16 pengusaha Digital Printing tersebut semua sepakat untuk menaikkan harga sebagai dampak penyesuaian harga bahan baku saja, bukan pada dasar biaya produksi.
Semua itu dijelaskan oleh Holis MF, Owner Madura Print yang terpilih menjadi Ketua asosiasi periode pertama tersebut. Menurutnya juga selama ini semua pengusaha sudah memberi tarif yang cukup murah bagi masyarakat dengan terus menekan harga, namun karena kenaikan bahan yang terus melonjak sehingga harus disesuaikan dengan proporsional.
“Silaturrahim dan Penandatanganan Kesepakatan Bersama ini adalah momen penting bagi para pelaku usaha digital printing, untuk menyatukan persepsi pemasaran kedepan agar tarif proporsional,” ungkapnya pada media.
“Itu dilakukan di tengah dinamika lonjakan kenaikan bahan baku mulai bulan April 2021 kemarin, dan di tengarai sampai bulan Maret 2022 nanti masih terus akan mengalami inflasi yang signifikan,” imbuhnya, Sabtu pagi.
Oleh sebab itu, katanya, semua sepakat untuk menyesuaikan harga cetak banner dan lainnya dengan tidak memberatkan masyarakat dan pemerintahan yang selama ini telah setia mempercayakan cetak produksinya kepada para pengusaha printing di Madura tersebut. Tentunya, semua dalam nilai kewajaran dan pertimbangan yang matang Asosiasi agar juga saling menguntungkan dan tidak memberatkan konsumen di Bumi Gerbang Salam.
“Alhamdulillah melalui silaturrahim bersama ini, kami sepakat mulai tanggal 1 November 2021 Harga jasa printing (Fleksi Banner) akan mengalami kenaikan harga dikisaran 23.000 – 25.000 /meter, dari yang sebelumnya 17.000 – 20.000 /meter,” tukasnya.(Yd/Mr)
Baca juga: Wujudkan Pelayanan Kelas Dunia, Kemenkumham Gelar Pameran Pelayanan Publik





