Meranti (Jurnal) – Viralnya status di media sosial (medsos) Facebook dari salah satu oknum pengurus partai politik yang bernama Suryo Sumpeno membuat mahasiswa Kabupaten Kepulauan Meranti geram, Rabu (07/2).
Mahasiswa yang tergabung dalam Forum Badan Eksekutif Mahasiswa (FORBEM) Meranti yang berjumlah 20 orang tersebut terdiri dari mahasiswa AMIK, STAI, STIKIP dan UT, untuk menyampaikan keluh kesahnya FORBEM langsung tancap gas berdialog dengan Ketua Fraksi PDI-P Asmawi di Kopitiam Resto Lantai 2, sekitar pukul 14:30 WIB.
Kegiatan tersebut dihadiri, Anggota DPRD Fraksi PDI-P Asmawi, pengurus PDI-P Zulkifli dan kader partai lainya serta 20 FORBEM.
Asmawi selaku Fraksi PDI-P mengatakan bahwa persoalan ini secara pribadi dan tidak mengatasnamakan partai, tapi sehubungan beliau merupakan Sekjen PDI-P, tentunya ini menjadi tanggung jawab bersama dari pihak partai.
“Kami ditugaskan ketua agar berkoordinasi untuk mencari tempat selain di kantor DPRD, sebenarnya pribadinya sudah melekat dengan partai, sehingga ketika berbicara SS, maka orang akan berfikir PDI-P, ini tetap kami sampaikan ke ketua DPC kami, saya tidak berpihak kemana-mana meskipun SS ini adalah sekjen kami, bahkan anak saya yang di Malang pun menelpon bagaimana tindakan mahasiswa di Meranti, kami berterima kasih kepada adik-adik semua, ini merupakan pelajaran penting untuk kami baik di pemerintah maupun di partai manapun,” ungkap Asmawi.
Ia juga mengatakan, untuk menghadirkan Sumpeno ini pihaknya telah berkoordinasi dengan ketua DPC, sehingga nantinya di medsos tidak sembarangan mengeluarkan kata-kata yang tidak membangun.
“Kami merasa ini bagian dari tanggung jawab kami sebagai ketua Fraksi PDI-P di DPRD Kabupaten Kepulauan Meranti,” ungkap Asmawi. Zulkifli salah seorang pengurus DPC PDI-P Kepulaun Meranti mengungkapkan bahwa ini murni blunder dari Sumpeno dalam penulisan menyampaikan hashtag #Mahasiswakampret#
“Meskipun kita tau tujuan dan maksud dari status itu untuk BEM UI, ini juga masalah pribadi beliau namun dikarenakan beliau merupakan sekjen kami, mau tidak mau kami tetap bertanggung jawab, seandainya beliau tidak mau hadir dan kawan-kawan mahasiswa belum puas kami dari partai tidak ikut campur lagi,” ujar Zulkifli.
Dalam hal ini Zulkifli berharap yang bersangkutan untuk meminta maaf dan menghapus postingannya di akun facebooknya, dan pihak PDIP memberikan sanksi atau teguran kepada yang bersangkutan.
“Kami harap kawan-kawan dapat merespon dengan baik, kami tidak bisa menjamin SS bisa bertemu dengan mahasiswa karena beliau ada kesibukan di Pekanbaru dan untuk perintah itu bukan domain kami, itu sepenuhnya domain ketua DPC,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Khairul Zaman Mahasiswa semester akhir STAI menjelaskan pihaknya bergerak bukan hanya dari FORBEM Meranti saja, juga nanti melaporkan kesepakatan ini ke kawan-kawan Mahasiswa di Pekanbaru terkait pertanggungjawaban selaku mahasiswa di Meranti.
“Apa yang kami usahakan di Meranti ada hasilnya pak, kami mau adanya forum secara resmi dengan SS untuk mengklarifikasikan status beliau lalu meminta maaf, beliau selaku publik figur dan tokoh masyarakat kami menilai tak sepantasnya mengatakan begitu. Tapi kalau tidak ketemu akan menjadi beban bagi kami pak, karna kami membawa aspirasi mahasiswa seluruh Indonesia yang sampai saat ini mempertanyakan ini pak,” ungkap Khairul.
Sementara itu, Muzakar Salim (Ketua DEMA STAI) meminta Suryo Sumpeno bisa dihadirkan lalu minta maaf, masalah SP itu hak dan wewenang partai.
“Kami minta 2×24 jam beliau menghubungi kami. itu saja pak ini tidak membahas lain pak, tujuan kami hanya pada Hastagh #MahasiswaKampret, kami akan menjamin itu, komentar 380 dan likenya 178 serta 52 dibagikan kami dapat telpon dari Jogja, Pekanbaru terkait masalah ini, kami cuma mau awak sama awak pak supaya masalah ini selesai, tidak melebar kemana-mana, untuk itu kami sangat berterima kasih kepada PDI-P karena memfasilitasi dialog dari FORBEM ini. kami meminta bapak menyampaikan dalam waktu 2×24 jam untuk bertanggung jawab, menghapus, mengklarifikasi, lalu meminta maaf dengan kami (mahasiswa) tidak etis rasanya ketika beliau memakai baju merah kami meminta bantuan dengan warna yang lain,” ungkapnya.
Supandi (BEM STIKIP) menambahkan, dengan forum tersebut pihaknya merasa tidak puas karena pihak terkait tidak bisa menghadirkan yang bersangkutan.
“Kami merasa tidak puas pak, tidak menggantung seperti ini, kami ingin masalah ini selesai dan kami ingin beliau menunjukkan tanggung jawabnya atas status yang dibuat,” pintanya. (Khairul Zaman).





