COVID-19 dan nasib pendidikan anak bangsa

  • Whatsapp
Mohamad Maulidi dan rekan-rekan.
Mohamad Maulidi dan rekan-rekan.
space iklan arah

Penulis: Mohamad Maulidi *)

Masih belum jelasnya masa berakhir pandemi Virus Corona menimbulkan kecemasan bagi dunia pendidikan.

Bacaan Lainnya

Apalagi jika melihat fenomena kondisi masyarakat, sekolah, dan perguruan tinggi yang belum benar-benar siap menghadapi kejutan perubahan kebiasaan pembelajaran dari tatap muka ke model pembelajaran jarak jauh.

Sehingga jika keterkejutan ini terjadi terlalu lama, maka akan melahirkan masalah baru bagi dunia pendidikan.

Pembelajaran jarak jauh/daring yang telah diberlakukan beberapa bulan terakhir yang sebagian besar memanfaatkan teknologi (baik proses daring maupun luring), sudah memberikan gambaran dan dapat dijadikan tolak ukur penyelenggaraan pendidikan ke depan, khususnya selama pandemi corona.

Bicara tentang pendidikan, maka kita sedang bicara tentang investasi masa depan peradaban negeri ini, berbicara tentang segala sumber investasi yang ada.

Pemerintah dan seluruh pihak harus bersegera benar-benar memikirkan tentang apa dan bagaimana proses pendidikan anak-anak Bangsa sebagai lintas generasi Indonesia ini akan dibangun dan dikontruksi di masa pandemi, jangan kalah oleh anggapan pentingnya ekonomi.

Harus segera ada langkah tegas dan jelas agar tragedi virus corona tidak disusul oleh tragedi intelektual dan peradaban.

Sementara, jika pembelajaran proses pembelajaran jarak jauh terjadi saja, kita masih menemukan data bahwa di banyak daerah pedesaan hanya sekitar 25% saja siswa, mahasiswa, guru dan para dosen kita yang bisa mengadakan dan mengikuti pembelajaran jarak jauh.

Hal ini diakibatkan oleh banyak sekali faktor, mulai dari faktor keterjangkauan jaringan internet, kemampuan guru memanfaatkan teknologi IT, kesiapan orang tua siswa dalam menyediakan perangkat pembelajaran, kemampuan siswa dan masyarakat dalam menggunakan IT, faktor pembiayaan dan berbagai masalah lainnya.

Selama ini pembelajaran kita masih dianggap knowledge oriented, sebagian besarnya baru transfer pengetahuan saja yang tampak dan masih dinilai kurang pada proses pengembangan keterampilan dan nilai-nilai sikap/karakter. (*)

*) Isi tulisan diluar tanggung jawab redaksi

Pos terkait