KAB AGAM, Jurnalterkini.id – Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, memimpin Apel Siaga Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Tingkat Provinsi Sumatera Barat Tahun 2026 yang berlangsung di Nagari Pasia Laweh, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, pada Kamis, 21 Mei 2026.
Kegiatan apel siaga ini dihadiri oleh 12 UPTD dari 11 kabupaten/kota di Sumatera Barat sebagai bentuk kesiapan bersama menghadapi potensi peningkatan ancaman kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau tahun ini.
Dalam arahannya, Gubernur menekankan bahwa karhutla merupakan ancaman serius dengan dampak luas, mulai dari kerusakan lingkungan hidup, gangguan kesehatan masyarakat, efek negatif pada perekonomian, hingga merusak citra daerah.
Ia juga menggarisbawahi bahwa faktor manusia masih menjadi penyebab utama terjadinya karhutla. Hal ini mencakup pembukaan lahan dengan cara membakar, kelalaian masyarakat, aktivitas penebangan liar, praktik perladangan berpindah, hingga aksi pembakaran lahan yang disengaja akibat konflik.
“Penanganan karhutla tidak dapat dilakukan secara parsial. Dibutuhkan sinergi, koordinasi, dan komitmen kuat dari seluruh pihak agar ancaman kebakaran hutan dan lahan dapat dicegah sejak dini,” ujar Gubernur.
Gubernur juga mengingatkan bahwa sepanjang 2025 lalu, lebih dari 110 insiden kebakaran hutan dan lahan terjadi di wilayah Sumatera Barat, dengan total area terdampak lebih dari 1.450 hektare. Beberapa daerah seperti Kabupaten Lima Puluh Kota, Kabupaten Solok, dan Kabupaten Agam bahkan harus menetapkan status tanggap darurat akibat meningkatnya jumlah titik panas serta kejadian karhutla.
Menurut analisis BMKG, musim kemarau tahun 2026 diperkirakan datang lebih awal dan berlangsung lebih lama. Kondisi ini diperkuat dengan tanda-tanda peralihan menuju fenomena El Nino yang dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, khususnya pada periode Juni hingga September 2026.
Selaras dengan arahan pemerintah pusat saat Apel Siaga Nasional di Palembang, Gubernur kembali menekankan pentingnya pendekatan terpadu dalam penanganan karhutla. Ia menegaskan bahwa penanggulangan harus dilakukan dengan cepat dan proaktif, tanpa menunggu situasi memburuk. Pencegahan harus diprioritaskan melalui pendeteksian titik panas secara dini, pelaksanaan patroli gabungan, serta edukasi masyarakat secara berkesinambungan.
Gubernur juga menyerukan agar seluruh elemen pemerintah daerah, TNI, Polri, dunia usaha, dan masyarakat terus memperkuat koordinasi dan bekerja di bawah satu komando dalam menghadapi ancaman karhutla. Segala sumber daya manusia, peralatan, serta logistik juga diminta siap siaga setiap saat untuk menghadapi potensi kebakaran.
“Pemerintah Provinsi Sumatera Barat bersama seluruh pemangku kepentingan harus siap siaga baik dari sisi personel, peralatan maupun langkah strategis di lapangan. Upaya pencegahan harus menjadi prioritas utama tanpa mengesampingkan kesiapan penanggulangan apabila terjadi kebakaran,” tegasnya.
Gubernur juga mengajak seluruh elemen masyarakat—Ninik Mamak, Cadiak Pandai, Alim Ulama, Bundo Kanduang, Lembaga Masyarakat Pengelola Perhutanan Sosial (LMPPS), serta Masyarakat Peduli Api—untuk berperan aktif menjaga lingkungan dan menghindari pembakaran lahan secara sembarangan.
“Kita semua memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga kelestarian hutan dan lingkungan demi keberlanjutan generasi mendatang. Kita tentu berharap kejadian karhutla tahun 2025 tidak terulang kembali di tahun 2026,” pesan Gubernur.
Setelah memimpin apel siaga, Gubernur melakukan penanaman pohon manggis sebagai simbol komitmen terhadap pelestarian lingkungan. Selain itu, ia turut meresmikan peletakan batu pertama untuk pembangunan Monumen Nagari Peduli Hutan di Nagari Pasia Laweh, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam.(Dion).





