Direktur PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (Sido Muncul) Irwan Hidayat./Dok.Foto.Day.BJ.(jurnalterkini id/Ponco)
Semarang, jurnalterkini.id – Direktur PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk, Irwan Hidayat, tampil bugar dan energik pada usia 78 tahun. Di balik kebugarannya, Irwan rupanya menerapkan pola hidup ketat: puasa 18 jam setiap hari. Kebiasaan itu, menurutnya, menjadi salah satu cara menjaga kesehatan selain mengonsumsi jamu.
“Supaya sehat, jagalah apa yang kamu makan. You are what you eat. Saya ini puasa 18 jam setiap hari,” ujar Irwan saat ditemui wartawan, Sabtu, 6 Desember.
Kebiasaan itu kini juga diadopsi oleh para karyawan Sido Muncul. Irwan menyebut metode puasa tersebut sebagai bagian dari mekanisme tubuh untuk melakukan pembersihan alami.
“Itu namanya autophagy. Ketika tubuh membuat sel baru dan lemak sudah habis dipakai, racun-racun di dalam tubuh yang akan dimakan. Kalau tahu manfaatnya, kamu akan berpuasa dengan senang hati,” katanya.
Membangun Literasi Herbal Berbasis Ilmu Pengetahuan
Dalam kesempatan yang sama, Irwan memaparkan gagasannya untuk meningkatkan pemahaman publik terhadap obat herbal melalui sebuah pendekatan yang ia sebut “kampanye literasi herbal berbasis riset.”
Menurutnya, Indonesia memiliki modal besar di bidang tanaman obat, namun pemanfaatan ilmiahnya belum tersosialisasi dengan baik.
“Saya rasa saya punya konsep terbaik tentang bagaimana memperkenalkan obat herbal ke masyarakat luas,” ujarnya.
Salah satu bentuk kampanye itu adalah penyusunan kumpulan riset ilmiah mengenai bahan-bahan herbal, mulai dari kunyit, temulawak, daun dewa, hingga sambiloto. Riset tersebut dikumpulkan dari jurnal ilmiah nasional dan internasional.
“Yang penting saya membuat kumpulan riset dari literatur yang ada. Kami punya tim yang menyusunnya,” katanya.
Irwan menargetkan seluruh kumpulan riset itu bisa diakses publik melalui internet sehingga masyarakat dapat mencari referensi herbal sesuai keluhan kesehatan mereka.
“Setiap orang nanti bisa tahu, kalau punya masalah lambung misalnya, tinggal cari di literatur itu. Mau beli di pasar, beli produk saya, atau produk perusahaan lain, tidak masalah. Yang penting manfaatnya tersebar,” ujar Irwan.
Ia menegaskan bahwa riset yang dihimpun bukan penelitian internal perusahaan, melainkan kajian peneliti independen. Menurutnya, banyak riset herbal yang sudah melalui uji klinis namun belum populer di masyarakat.
“Masyarakat sering mengira jamu itu hanya berdasarkan pengalaman personal. Tidak. Saya mengambil dari jurnal-jurnal yang ada. Risetnya sudah jauh, sudah ada uji klinisnya,” katanya.
Etika Kesehatan dan Prinsip Produk Sido Muncul
Irwan juga menyinggung inspirasi etis yang ia pelajari dari Sumpah Hippokrates yang ia sebut sebagai “gurunya para dokter”. Ada tiga nilai yang ia pegang teguh: menghormati guru, menghargai kehidupan, dan menyadari keterbatasan diri.
“Kami tidak membuat obat yang muluk-muluk. Misalnya obat kanker, kami hanya membuat pendamping untuk orang yang sakit kanker,” ujarnya.
Ia memastikan seluruh produk Sido Muncul dikembangkan dengan prinsip keamanan konsumen sebagai prioritas utama.
“Keluarga saya semua minum jamu saya. Cucu saya juga minum. Kalau nanti saya punya buyut, mereka pasti minum karena percaya,” tuturnya.(PH)





