Gubernur Jateng Ahmad Luthfi dalam acara Sekolah Anti Korupsi, sesi foto bersama Kades se jateng di GOR Indoor Jatidiri, Semarang./Dok.Foto.(jurnalterkini.id/Ponco)
SEMARANG, jurnalterkini.id – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menekankan pentingnya peran kepala desa (kades) sebagai penyelesai masalah (problem solver) di tengah masyarakat. Hal itu ia sampaikan dalam acara Sekolah Antikorupsi yang digelar di GOR Indoor Jatidiri, Semarang, Selasa (29/4).
Dalam sambutannya, Gubernur meminta para kades untuk benar-benar dekat dan memahami kondisi warganya secara menyeluruh.
“Harus tahu siapa tukang ngarit, siapa yang menggembala kambing, bahkan jika ada janda yang perlu disantuni. Masalah saluran air untuk sawah pun harus segera dicari solusinya. Itulah esensi ‘ngopeni lan nglakoni’,” ujarnya.
Luthfi juga menegaskan bahwa seluruh desa di Jawa Tengah diperlakukan secara adil. Sebagai wujud komitmen tersebut, Pemprov Jateng telah mengalokasikan dana bantuan keuangan desa sebesar Rp1,2 triliun pada tahun 2025.
Ia mendorong kepala desa memanfaatkan dana tersebut untuk menggerakkan potensi desa, seperti pengembangan desa wisata, pertanian milenial, lumbung pangan, koperasi merah putih, serta memperkuat pelayanan kesehatan desa.
Gubernur juga meminta agar arah pembangunan desa tetap mengacu pada program Kecamatan Berdaya, yang selaras dengan kebijakan nasional, provinsi, dan kabupaten.
Lebih lanjut, Ahmad Luthfi menyoroti pentingnya perbaikan infrastruktur desa, terutama saluran irigasi, sebagai upaya mendukung target swasembada pangan nasional pada 2026.
Ia secara khusus meminta Dinas PU Bina Marga segera menyelesaikan pemetaan dan perbaikan saluran air sekunder di seluruh wilayah Jawa Tengah.
Sebagai bagian dari penguatan stabilitas dan keamanan desa, Gubernur juga menginstruksikan penguatan peran Tiga Pilar desa: kepala desa atau lurah, Bhabinkamtibmas, dan Babinsa.
“Pulang dari Sekolah Antikorupsi ini, Tiga Pilar harus aktif. Jangan sedikit-sedikit masalah dibawa ke pidana,” tegasnya.(PH)





