Upaya Spiritual
Hubungan diplomatik Indonesia yang kuat dengan Belanda memainkan peran penting dalam negosiasi, dimulai dengan perjanjian budaya 2017, kata I Gusti Agung Wesaka Puja, Kepala Tim Repatriasi Koleksi Indonesia di Belanda.
“Arti penting dari hal ini adalah untuk menunjukkan kepada masyarakat internasional bahwa Indonesia mampu mengembalikan benda-benda ini,” katanya kepada AFP.
“Ini membantah klaim para skeptis yang mengatakan Indonesia tidak memiliki kapasitas untuk melestarikan warisan yang sangat berharga tersebut.”
Di antara benda-benda yang dikembalikan tersebut terdapat tiga patung Hindu-Buddha lainnya yang menggambarkan dewa-dewi, yang diambil dari kompleks candi abad ke-13 di Kerajaan Singosari, dekat Gunung Semeru di Jawa Timur.
Ganesha yang berdiri merupakan salah satu dari sedikit yang ada di dunia, kata arkeolog yang tinggal di Jawa Timur, Dwi Cahyono.
“Posisi berdiri ini melambangkan kewaspadaan terhadap bahaya,” katanya kepada AFP.
Dengan demikian, pemulangannya dianggap sebagai “upaya spiritual untuk menenangkan amukan bencana di Indonesia”, yang terletak di Cincin Api Pasifik yang rawan gempa.
Ribuan benda budaya yang dijarah diyakini masih berada di luar negeri, terutama di Belanda dan negara-negara lainnya, dan penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengembalikannya ke Tanah Air.
Meskipun tidak ada rencana pemulangan artefak lebih lanjut dari Belanda, Dwi berharap akan melihat lebih banyak karya yang kembali dalam beberapa tahun mendatang.
“Saya masih berharap aset-aset lainnya akan dikembalikan, dan ini tetap menjadi prioritas, karena benda-benda ini sangat penting untuk memperkuat warisan budaya kita,” katanya.





