Beberapa pejabat senior NASA dan perwakilan Boeing membuat keputusan tersebut dalam pertemuan yang diadakan Sabtu (24/8/2024) pagi di Houston.
Ken Bowersox, Kepala Operasi Ruang Angkasa NASA, menyatakan bahwa pejabat agensi secara aklamasi memilih Crew Dragon untuk membawa pulang astronot. Sementara itu, Boeing tetap memilih Starliner, yang menurut mereka aman.
Nelson mengatakan kepada wartawan di konferensi pers Houston bahwa ia telah berdiskusi dengan CEO baru Boeing, Kelly Ortberg, mengenai keputusan tersebut. Ia yakin Boeing akan terus melanjutkan program Starliner. Nelson juga menyatakan keyakinannya “100 persen” bahwa wahana antariksa itu akan kembali menerbangkan astronot pada masa mendatang.
Boeing menghadapi kesulitan dalam mengembangkan Starliner, kapsul yang dirancang untuk bersaing dengan Crew Dragon sebagai opsi kedua dalam mengirim astronot ke orbit. Selain itu, perusahaan juga mengalami masalah kualitas dalam produksi pesawat komersialnya.
Starliner gagal meluncur ke ISS tanpa awak dalam uji coba 2019, tetapi berhasil sebagian dalam uji ulang 2022 meski mengalami masalah pendorong. Misi pada Juni dengan awak pertama diperlukan agar NASA bisa mensertifikasi kapsul untuk penerbangan rutin. Namun, sekarang proses sertifikasi Starliner menjadi tidak pasti.
Misi yang memakan waktu lama ini membuat Boeing harus merogoh kocek sebesar $125 juta atau Rp1,93 triliun. Perusahaan tersebut melakukan berbagai uji coba dan simulasi di Bumi untuk meyakinkan NASA bahwa Starliner aman untuk mengangkut kru kembali ke Bumi.
Namun, pengujian itu memunculkan masalah teknis baru dan gagal mengatasi kekhawatiran NASA tentang pendorong Starliner. Masalah ini juga menimbulkan keraguan mengenai kemampuan kapsul untuk membawa kru pulang, yang merupakan bagian tersulit dari misi itu. [voa]
Jaringan: VOA





