Pasukan Zionis Israel melancarkan gelombang serangan udara di Lebanon selatan Minggu (25/8/2024) dini hari dalam apa yang disebutnya sebagai serangan pendahuluan terhadap Hizbullah. Kelompok perlawanan itu menanggapi dengan meluncurkan ratusan roket dan pesawat nirawak untuk membalas pembunuhan salah seorang komandan utamanya bulan lalu.
Saling serang besar-besaran itu tampaknya tidak memicu perang yang telah lama ditakutkan, tetapi situasinya tetap tegang. Sementara itu, Mesir pada Minggu menjadi tuan rumah pembicaraan tingkat tinggi dengan tujuan untuk menengahi gencatan senjata dalam perang Israel-Hamas yang telah berlangsung selama 10 bulan di Gaza. Para diplomat berharap pembicaraan itu akan meredakan ketegangan regional.
Militer Israel mengatakan mereka menyerang karena Hizbullah berencana untuk meluncurkan rentetan roket dan rudal ke arah Israel. Tidak lama setelah itu, Hizbullah mengumumkan telah melancarkan serangan terhadap posisi militer Israel sebagai tanggapan awal atas terbunuhnya Fouad Shukur, salah seorang anggota pendirinya, dalam serangan udara Israel di Beirut bulan lalu.
Menjelang siang pagi, tampaknya aksi saling serang itu telah berakhir, dan kedua belah pihak mengatakan bahwa mereka hanya menarget sasaran militer. Sedikitnya tiga orang tewas dalam serangan di Lebanon, sementara di pihak Israel tidak ada laporan mengenai jatuhnya korban.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, saat berbicara pada awal rapat Kabinet, mengatakan militer telah mengeliminasi “ribuan roket yang diarahkan ke Israel utara” dan mendesak warga untuk mematuhi arahan dari Komando Front Dalam Negeri.
“Kami bertekad untuk melakukan segalanya untuk mempertahankan negara kami, untuk memulangkan penduduk utara dengan aman ke rumah mereka dan untuk terus menegakkan aturan sederhana: Siapa pun yang menyakiti kami — kami akan menyakiti mereka,” katanya.






