Polio Mengancam, WHO Desak Gencatan Senjata Segera di Gaza untuk Vaksinasi Massal

Warga Palestina yang mengungsi akibat serangan udara dan darat Israel di Jalur Gaza, berjalan melewati aliran limbah gelap yang mengalir ke jalan-jalan kota selatan Khan Younis, Jalur Gaza, pada 4 Juli 2024. (Foto: AP)
Warga Palestina yang mengungsi akibat serangan udara dan darat Israel di Jalur Gaza, berjalan melewati aliran limbah gelap yang mengalir ke jalan-jalan kota selatan Khan Younis, Jalur Gaza, pada 4 Juli 2024. (Foto: AP)

Ancaman polio meningkat pesat di Jalur Gaza, sehingga mendorong kelompok-kelompok bantuan untuk menyerukan penghentian segera perang agar mereka dapat melangsungkan vaksinasi massal dan mencegah terjadinya wabah dalam skala besar.

Satu kasus telah terkonfirmasi, sementara beberapa lainnya masih diduga. Virus tersebut terdeteksi di air limbah di enam lokasi berbeda pada bulan Juli.

Bacaan Lainnya

Di pusat kota Deir al-Balah, jalanan dibanjiri air limbah.

Setiap hari, anak-anak dan orang dewasa berjalan melewati kawasan banjir dan tumpukan sampah yang memenuhi jalanan.

Karena tidak adanya tempat yang aman, beberapa pengungsi mendirikan tenda mereka di sisi jalan dekat saluran pembuangan, sementara Israel melanjutkan kampanye militernya di wilayah yang terkepung itu.

Polio telah diberantas di Gaza 25 tahun yang lalu, namun vaksinasi menurun setelah perang dimulai 10 bulan yang lalu dan wilayah tersebut telah menjadi tempat berkembang biaknya virus tersebut, kata kelompok-kelompok bantuan.

Ratusan ribu pengungsi Palestina berdesakan di tenda-tenda yang kekurangan air bersih atau tempat pembuangan limbah dan sampah yang layak.

Untuk mencegah wabah meluas, kelompok bantuan bersiap untuk memvaksinasi lebih dari 600.000 anak dalam beberapa pekan mendatang.

Mereka mengatakan rencana vaksinasi yang ambisius ini tidak mungkin dilakukan tanpa adanya jeda dalam pertempuran antara Israel dan Hamas.

Kemungkinan kesepakatan gencatan senjata tidak akan terwujud dalam waktu dekat.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan UNICEF, badan urusan anak-anak PBB, mengatakan dalam pernyataan bersama pada hari Jumat (16/8) bahwa, setidaknya, jeda tujuh hari diperlukan untuk melaksanakan program vaksinasi massal.

PBB bertujuan untuk mengirimkan 1,6 juta dosis vaksin polio ke Gaza, di mana sistem sanitasi dan air telah hancur, meninggalkan banyak kotoran manusia di kamp-kamp yang penuh sesak.

Keluarga yang tinggal di kamp hanya mempunyai sedikit air bersih atau bahkan sabun untuk menjaga kebersihan dan terkadang menggunakan air limbah untuk minum atau membersihkan pakaian dan piring.

Setidaknya 225 tempat pembuangan sampah tidak resmi telah bermunculan di sekitar Gaza – banyak di antaranya dekat dengan tempat di mana banyak keluarga berlindung, menurut laporan yang dirilis pada bulan Juli oleh PAX, sebuah organisasi nirlaba berbasis di Belanda yang menggunakan citra satelit untuk melacak lokasi tersebut.

Polio, yang sangat menular, terutama melalui kontak dengan tinja, air atau makanan yang terkontaminasi, dapat menyebabkan kesulitan bernapas dan kelumpuhan permanen, biasanya pada kaki.

Penyakit ini khususnya menyerang anak-anak kecil dan terkadang berakibat fatal.

Kelompok bantuan Mercy Corps memperkirakan sekitar 50.000 bayi yang lahir sejak perang dimulai belum diimunisasi polio.

WHO dan UNICEF mengatakan pada hari Jumat bahwa tiga anak diduga terinfeksi dan sampel tinja mereka sedang diuji oleh laboratorium di Yordania.

Total Views: 470

Pos terkait