Dampak Pelemahan Rupiah
Ekonom CORE Indonesia Muhammad Faisal mengungkapkan apa yang dikemukakan oleh pemerintah terkait indikator makro ekonomi Indonesia yang masih stabil memang benar. Namun, katanya, pelemahan rupiah yang terjadi saat ini akan berdampak pada beberapa waktu ke depan.
“Tapi kalau pelemahan rupiah yang dikhawatirkan akhir-akhir ini, dampaknya belum terlalu kelihatan pada saat sekarang. Jadi, ada leg sedikit karena catatan makro seperti misalkan kuartal-I itu sudah dirilis 1-2 bulan yang lalu dan itu sudah lewat. Jadi semua catatan statistik adalah peristiwa yang sudah lewat. Sementara yang pelemahan nilai tukar rupiah itu terjadi mulai dari lebaran sampai saat ini, jadi itu lebih recent,” ungkap Faisal ketika berbincang dengan VOA.
Faisal menjelaskan, dampak yang akan terjadi ketika pelemahan rupiah ini berkepanjangan. Menurutnya, dampak signifikan akan terjadi kepada sektor riil yang banyak memanfaatkan bahan baku impor, baik itu industri manufaktur maupun infrastruktur sampai masyarakat umum sebagai konsumen.
“Industri-industri itu banyak bahan baku dan bahan penolongnya itu impor, hampir semua industri, mulai dari industri makanan, minuman, sampai tekstil, sampai yang paling tinggi itu obat-obat, industri farmasi, otomotif, elektronik. Jadi ini akan lebih mahal, bagi industri biaya produksi meningkat, bagi masyarakat juga (akan terkena) imported inflation,” jelasnya.
Sebelumnya CORE Indonesia, kata Faisal, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada kuartal-II akan lebih rendah dibandingkan kuartal-I yang mencapai 5,11 persen, yakni di kisaran lima persen atau bahkan tergelincir di bawah lima persen. Hal ini disebabkan struktur pertumbuhan ekonomi yang paling penting, yaitu investasi dan konsumsi rumah tangga, melemah. Namun, pada kuartal pertama, pelemahan rupiah masih tetap mencatat level sebesar 5,11 persen, ditopang oleh aktivitas pemilu.
“Jadi, kalau yang dua fondasi terbesar penyusun ekonomi itu tumbuh lambat, maka berpotensi setelah lewat pemilu akan turun pertumbuhan ekonominya karena konsumsi rumah tangga dan investasinya tumbuh lambat sementara pemilu sudah lewat. Jadi kita perkirakan lebih rendah dibandingkan kuartal-I,” pungkasnya. [voa]
Jaringan: VOA





