Indonesia Kutuk Serangan Militer Zionis ke Rafah

Asap membubung dari lokasi serangan Israel di Rafah di selatan Jalur Gaza, 7 Mei 2024 di tengah konflik antara Israel dan kelompok militan Palestina, Hamas. (Foto: AFP)
Asap membubung dari lokasi serangan Israel di Rafah di selatan Jalur Gaza, 7 Mei 2024 di tengah konflik antara Israel dan kelompok militan Palestina, Hamas. (Foto: AFP)

Badan Bantuan PBB Pilih Bertahan di Rafah

Berbicara dari Yerusalem, Kepala Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Gaza (United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs/ OCHA) Andrea De Domenico bahkan mengatakan operasi militer itu akan membuat ribuan warga Palestina yang berada di kamp-kamp yang tidak memadai itu semakin menderita.

Bacaan Lainnya

“Bantuan makanan untuk warga di bagian selatan Gaza itu akan habis pada akhir pekan ini,” ujarnya lirih seraya menambahkan “pertempuran juga kemungkinan akan menutup tiga rumah sakit yang tersisa di Rafah dalam beberapa jam mendatang,” kata De Domenico.

Sebelumnya Direktur Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (The United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East/UNRWA) di Gaza, Scott Anderson, pada Senin (6/5/2024) memastikan bahwa apapun yang terjadi pasca dimulainya operasi militer di Rafah, pihaknya tidak akan meninggalkan wilayah itu.

“UNRWA – sebagaimana seluruh komunitas kemanusiaan internasional dan PBB – tidak akan pergi dari Gaza. Kami berada di sini untuk menyediakan bantuan pada warga sipil tidak berdosa yang terjebak dalam konflik keji ini. Kami berniat tetap bertahan dan menjalankan tugas menyediakan layanan bantuan yang diperlukan,” ujarnya.

Lebih jauh Anderson menegaskan “kami tidak akan meninggalkan warga Palestina di Rafah. Kami akan tinggal di sini. Faktanya kami akan mengikuti mereka. Saya, khususnya, akan menjadi salah satu orang terakhir yang meninggalkan Rafah ketika semua orang memilih untuk keluar dari kota ini.”

RI Kecam Pemindahan Paksa Warga Palestina

Kementerian Luar Negeri Indonesia dalam pernyataan tertulisnya mengatakan “setiap upaya pemindahan paksa atau pengusiran warga Palestina, termasuk dari Rafah, tidak dapat diterima karena tindakan itu merupakan puncak kejahatan terhadap kemanusiaan.”

Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi telah berulangkali menyampaikan hal ini dalam berbagai forum internasional dan pertemuannya dengan pejabat-pejabat tinggi, termasuk yang terakhir dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Banjul, Gambia, akhir pekan lalu.

Total Views: 818

Pos terkait