Agus pun mengimbau kepada masyarakat apabila menemukan amunisi-amunisi tersebut agar segera melapor ke pihak. TNI, dan jika memang ada kerusakan, masyarakat nantinya akan mendapatkan ganti rugi.
Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) Maruli Simanjuntak, yang juga melakukan inspeksi terhadap gudang tersebut, menyatakan bahwa kondisi terkini gudang penyimpanan nomor enam rusak berat. Ia menjelaskan bahwa jarak antara satu gudang dengan gudang lainnya cukup jauh.
Maruli menekankan, pihaknya ke depan akan mengevaluasi SOP penyimpanan untuk amunisi-amunisi yang sudah kedaluwarsa tersebut, termasuk mengevaluasi proses disposal yang memakan waktu cukup panjang.
“Sekarang pun kita akan mencoba membuat jenis-jenis amunisinya. Jadi kita pilah-pilah lagi. Tadinya disatukan yang mau akan di-disposal,” ungkap Maruli.
Maruli mengungkapkan sebenarnya kondisi gudang penyimpanan amunisi tersebut masih sangat layak. Gudang tersebut baru dibangun sekitar tahun 2000-an.
“Sangat (laik). Makanya gudangnya kan aman, tapi karena ada berbagai jenis (amunisi) ini ada risiko masing-masing. Ada yang amunisi mungkin meledak karena mesiu biasa, ada juga yang mungkin (bisa meledak) pakai infrared, jadi bisa saja karena pengaruh dengan cahaya segala macam,” jelasnya.
Namun, ia menegaskan bahwa sebenarnya tanah milik TNI telah ada sejak lama, tetapi pemukiman warga yang baru muncul yang mendekat ke tanah milik TNI.
“Sebetulnya kan yang merapat itu kan perumahan (warga). Kita dari zaman dulu sudah ada di sini. Itu sama lah, semua komplek-komplek militer tuh akhirnya jadi mendekat masyarakat, tapi dengan kondisi itu ya kami nanti akan evaluasi lagi,” katanya.
Ia mengatakan proses investigasi untuk mengungkap penyebab sebenarnya ledakan tersebut akan segera dilakukan. Investigasi tersebut akan melibatkan polisi militer dan pihak terkait. [voa]
Jaringan: VOA





