TNI Kirim 900 Payung Udara untuk Salurkan Bantuan ke Gaza

TNI menggunakan Pesawat Hercules C-130 mengirimkan bantuan kemanusiaan kepada Palestina pada Jumat (29/3) di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta. (VOA)
TNI menggunakan Pesawat Hercules C-130 mengirimkan bantuan kemanusiaan kepada Palestina pada Jumat (29/3) di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta. (VOA)

Selain itu, pertimbangan Indonesia menitipkan bantuan payung udara orang dan barang ini kepada pihak Yordania adalah karena Indonesia sendiri tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Untuk bisa terbang memasuki wilayah Gaza, menurutnya, dibutuhkan izin dari pihak Israel.

“Yordania punya hubungan diplomatik dengan Israel, Indonesia tidak punya. Oleh karena itu, kalau kita terbang masuk ke wilayah ke Gaza semuanya harus mendapatkan clearance dari Israel. Ini yang kita hindari. Jadi tidak konsisten, karena selama ini kita tidak mengakui Israel kita mendukung perjuangan Palestina tiba-tiba kita harus meminta untuk bisa terbang di atasnya yang sebetulnya bisa kita lakukan dengan cara lainnya salah satunya dengan cara kerja sama dengan pemerintah Yordania,” jelasnya.

Bacaan Lainnya

Terkait adanya resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) yang mendesak dilakukannya gencatan senjata segera di Gaza pada Senin (25/3), Hendraning berharap hal ini bisa dijalankan dengan baik. Namun yang menjadi pertanyaan selanjutnya, menurutnya, adalah sejauh mana resolusi ini efektif untuk menekan Israel.

“Kita belum tahu (efektif atau tidak), yang jelas Israel sekarang sudah mengalami mentality isolated, hampir semua negara tidak bisa menerima perlakukan Israel yang melakukan genosida di Gaza, itu bukan perang, itu pembantaian,” tuturnya.

Sementara itu, Pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia Agung Nurwijoyo mengatakan pengiriman bantuan kemanusiaan bagi rakyat Gaza dengan metode airdrop ini menggambarkan adanya kegentingan dalam pemberian bantuan, karena pemberian bantuan lewat jalur darat sulit untuk dilakukan.

“Airdrop itu menjadi satu hal yang untuk kondisi sekarang mungkin menjadi salah satu opsi rasional yang bisa dilakukan untuk memberikan bantuan bagi rakyat Gaza. Dan juga sangat logis untuk kemudian memilih mitranya adalah Yordania, karena Yordania pun adalah salah satu aktor yang sudah tahu secara teknis di lapangan, sudah paham, bahkan di bawahnya langsung Raja Abdullah pernah mengirimkan secara langsung bantuan via udara,” ungkap Agung.

Merespons adanya resolusi dari DK PBB, Agung pun menyebut bahwa hal ini merupakan suatu kemajuan yang luar biasa. Namun, menurutnya, hal yang harus diwujudkan ke depannya adalah upaya multilateral secara konsisten dalam konteks untuk peredaan genosida yang terjadi di Gaza.

“Namun juga tetap harus bersinergi dengan upaya perdamaian lain yang sifatnya menurut saya dalam derajat tertentu punya tingkat keberhasilan yang kemungkinan jauh lebih besar yaitu melalui mediasi antara aktor-aktor yang memang sudah berperan setidaknya semenjak bulan Oktober,” jelasnya.

“Ada dua usaha dari Qatar yang akhirnya dulu jadi ada jeda kemanusiaan selama satu pekan, dan lewat bantuan Mesir meskipun ada problem mempertemukan kedua belah pihak. Tapi memang upaya-upaya lewat jalan seperti itu lewat aktor yang bermain di lapangan, dalam hal ini aktor regional, di tambah dengan dorongan tetap Amerika di dalamnya. Itu tetap menjadi satu kunci dalam upaya meredakan kekerasan di Gaza,” pungkasnya. [voa]

Jaringan: VOA

Total Views: 388

Pos terkait