Clementine O’Connor dari Program Lingkungan PBB (United Nations Environment Program/UNEP) mengatakan bahwa dengan semakin baiknya teknik pengumpulan data, besarnya skala isu tersebut menjadi semakin jelas.
“Semakin banyak jumlah sampah makanan yang Anda telusuri, semakin banyak pula yang Anda temukan,” katanya.
Bisnis-bisnis makanan seperti restoran, kafetaria, dan hotel bertanggung jawab atas 28 persen sampah makanan yang terbuang pada 2022, sementara bisnis ritel seperti toko daging dan sayur menyumbang 12 persen.
Namun, penyumbang sampah terbesar adalah rumah tangga, yang menghasilkan 60 persen atau sekitar 631 juta ton sampah makanan.
Richard Swannell dari WRAP mengatakan bahwa sebagian besar penyebab melimpahnya sampah makanan adalah orang-orang yang membeli makanan lebih banyak dari yang mereka butuhkan. Mereka juga salah dalam menakar porsi dan tidak mengonsumsi makanan yang tersisa.
Penyebab lainnya adalah tanggal kadaluarsa, tambahnya, karena bahan makanan yang masih bagus justru dibuang karena orang salah mengira bahwa makanannya sudah basi.
Banyak makanan, terutama di negara-negara berkembang, tidak terbuang begitu saja, melainkan terbuang dalam perjalanan atau busuk karena tempat penyimpanannya kurang dingin, kata laporan itu. [voa]
Jaringan: VOA





