Dirut Bulog Perkirakan Harga Beras akan Sulit Turun

Seorang pedagang menata karung beras di kiosnya, di sebuah pasar tradisional di Bekasi, pinggiran Jakarta, 1 Maret 2024. (REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana)
Seorang pedagang menata karung beras di kiosnya, di sebuah pasar tradisional di Bekasi, pinggiran Jakarta, 1 Maret 2024. (REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana)

JAKARTA – Direktur Utama Perum Bulog Bayu Krisnamurthi memperkirakan harga beras akan sulit turun ke harga semula.

“Bayangannya adalah harga beras mungkin akan bertahan, tidak akan sampai ke serendah seperti yang diperkirakan semula,” ungkap Bayu di Kementerian BUMN, Senin (18/3/2024).

Bacaan Lainnya

Faktor utama yang menyebabkan harga gabah naik adalah karena kenaikan biaya produksi gabah dari petani sendiri, mulai dari ongkos tenaga kerja, sewa lahan, pupuk, benih hingga komponen lain yang taraf harganyanya memang sudah naik lebih dulu.

Jika biaya produksi gabah petani per kilogram pada tahun lalu mencapai Rp4.700 atau cenderung dibulatkan menjadi Rp5.000, maka tahun ini, ujar Bayu, biaya itu kemungkinan sudah naik.

“Faktor yang membentuk harga gabah itu yang paling besar adalah dari ongkos tenaga kerja yang kira-kira hampir 50 persen dari harga pokok produksi gabah. Jadi kalau kita lihat dari semua faktor-faktor itu, sekarang sudah naik. Sehingga perkiraannya biaya produksi petani untuk menghasilkan satu kg gabah sudah berubah dibandingkan dengan satu tahun lalu. Kalau itu terjadi maka, harga gabah diperkirakan tidak akan turun sampai ke Rp5.000 lagi,” jelasnya.

Ia enggan merinci berapa kisaran harga beras nantinya.

“Jadi berapa perhitungannya, saya tidak tahu berapa besar angka resminya. Otoritas yang akan menentukan apakah di Badan Pangan Nasional (Bapanas) atau di BPS,” tegasnya.

Pengamat: Ada Kebijakan Yang Tidak Adil terhadap Petani

Pengamat pangan di Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Khudori, sependapat dengan Bayu, bahwa harga beras akan sulit untuk turun dalam beberapa waktu ke depan karena berbagai pertimbangan tadi. Ia menyerukan pihak-pihak terkait, seperti BPS, untuk mengadakan survei dan riset terbaru mengenai besaran biaya produksi yang dikeluarkan oleh petani saat ini untuk memproduksi gabah per kilogramnya. Data terakhir BPS adalah pada tahun 2017 dan sudah tidak relevan untuk digunakan.

“Sepertinya memang akan ada keseimbangan baru yang menyesuaikan antara kenaikan ongkos produksi dengan harga di hilir. Karena kalau kita cek harga beras yang tinggi itu dicerminkan oleh harga gabah yang tinggi. Harga gabah yang tinggi itu cerminan dari ongkos produksi yang naik itu,” ungkap Khudori.

Total Views: 408

Pos terkait