SpaceX Disebut Bangun Jaringan Satelit Mata-mata untuk Badan Intelijen AS

Prototipe pesawat luar angkasa SpaceX Starship diangkut dari lokasi peluncuran menjelang uji penerbangan ketiga SpaceX Starship dari Starbase di Boca Chica, Texas, 12 Maret 2024. (Foto: AFP)
Prototipe pesawat luar angkasa SpaceX Starship diangkut dari lokasi peluncuran menjelang uji penerbangan ketiga SpaceX Starship dari Starbase di Boca Chica, Texas, 12 Maret 2024. (Foto: AFP)

Dalam sebuah pernyataan, NRO mengakui misinya untuk mengembangkan sistem satelit canggih dan kemitraannya dengan lembaga pemerintah, perusahaan, lembaga penelitian, dan negara lainnya. Namun menolak mengomentari temuan Reuters tentang sejauh mana keterlibatan SpaceX dalam upaya tersebut.

“Kantor Pengintaian Nasional sedang mengembangkan sistem intelijen, pengawasan, dan pengintaian berbasis ruang angkasa yang paling mumpuni, beragam, dan tangguh yang pernah ada di dunia,” kata seorang juru bicara.

Bacaan Lainnya

Menurut sumber tersebut, satelit-satelit tersebut dapat memantau target di lapangan dan menyediakan data kepada pejabat intelijen dan militer AS. Pada dasarnya, satelit itu akan memungkinkan pemerintah AS untuk secara cepat mendapatkan gambaran terus-menerus dari aktivitas di lapangan hampir di mana saja di dunia, yang akan membantu dalam operasi intelijen dan militer.

Tiga sumber mengatakan belasan prototipe telah diluncurkan sejak 2020, di antara satelit lain yang digunakan pada roket Falcon 9 SpaceX.

Pentagon merupakan salah satu pelanggan utama SpaceX. Mereka menggunakan roket Falcon 9 untuk meluncurkan muatan militer ke luar angkasa. Prototipe satelit pertama Starshield, yang diluncurkan pada 2020, merupakan bagian dari kontrak terpisah senilai sekitar $200 juta yang membantu memposisikan SpaceX untuk mendapatkan kontrak lain senilai $1,8 miliar, kata salah satu sumber.

Konstelasi satelit mata-mata yang diklasifikasikan tersebut merupakan salah satu kemampuan paling dicari dari pemerintah AS di luar angkasa karena dirancang untuk memberikan liputan paling persisten, merata, dan cepat terhadap aktivitas di Bumi.

Musk, pendiri dan CEO Tesla, serta pemilik perusahaan media sosial X, mempromosikan inovasi di sektor luar angkasa. Namun, beberapa pejabat di pemerintahan Biden merasa frustrasi karena kontrol Musk atas Starlink di Ukraina, di mana militer Kyiv menggunakannya untuk komunikasi yang aman dalam konflik dengan Rusia. Wewenang Musk atas Starlink di zona konflik, bukan militer AS, menciptakan ketegangan antara dia dan pemerintah AS. [voa]

Jaringan: VOA
Editor: M Sarih

Total Views: 472

Pos terkait