Seorang pemimpin sindikat kejahatan yang bermarkas di Jepang bersekongkol memperdagangkan uranium dan plutonium dari Myanmar dengan harapan akan digunakan oleh Iran untuk membuat senjata nuklir, demikian tuduhan jaksa AS pada Rabu (21/2/2024).
Takeshi Ebisawa, 60, dan kaki tangannya menunjukkan sampel-sampel bahan nuklir yang diangkut dari Myanmar ke Thailand kepada agen Badan Pengawas Narkoba AS (DEA) yang menyamar sebagai penyelundup narkotika dan senjata yang memiliki akses ke seorang jenderal Iran, menurut pejabat-pejabat federal. Material nuklir itu kemudian disita, dan sampel-sampelnya kemudian ditemukan mengandung uranium dan plutonium tingkat senjata.
“Seperti yang dituduhkan, para terdakwa kasus ini menyelundupkan narkoba, senjata, dan bahan nuklir – bahkan menawarkan uranium dan plutonium tingkat senjata dengan harapan penuh bahwa Iran akan menggunakannya untuk senjata nuklir,” kata kepala DEA Anne Milgram dalam pernyataan. “Ini adalah contoh luar biasa dari kebejatan pengedar narkoba yang beroperasi dengan mengabaikan nyawa manusia.”
Bahan nuklir tersebut berasal dari seorang pemimpin “kelompok pemberontak etnis” yang tak diketahui identitasnya di Myanmar yang telah menambang uranium di negara itu, menurut jaksa. Ebisawa mengusulkan agar pemimpin tersebut menjual uranium melalui dirinyaa untuk mendanai pembelian senjata dari sang jenderal, ungkap dokumen pengadilan.
Menurut jaksa, pemimpin pemberontak memberikan sampel, yang menurut laboratorium federal AS mengandung uranium, thorium, dan plutonium, dan bahwa “komposisi isotop plutonium” itu berada pada tingkat senjata. Artinya, bahan itu akan cocok untuk digunakan dalam pembuatan senjata nuklir.






