IOM: Lebih dari 76.000 Orang Mengungsi Akibat Pertempuran di Perbatasan Israel-Lebanon

Orang-orang berjalan melewati puing-puing bangunan yang hancur menyusul serangan di kota Naqura di Lebanon selatan dekat perbatasan dengan Israel utara, 4 Januari 2024. (AFP)
Orang-orang berjalan melewati puing-puing bangunan yang hancur menyusul serangan di kota Naqura di Lebanon selatan dekat perbatasan dengan Israel utara, 4 Januari 2024. (AFP)

Lebih dari 76.000 orang telah mengungsi di Lebanon dalam hampir tiga bulan pertempuran yang terjadi hampir setiap hari di perbatasan dengan Israel, kata Organisasi Internasional untuk Migrasi PBB (IOM).

Kekerasan meningkat di daerah perbatasan sejak perang Israel-Hamas pecah pada awal Oktober. Baku tembak berlanjut pada Jumat antara pasukan Israel dan Hizbullah, sekutu kelompok militan Palestina Hamas di Lebanon yang didukung Iran.

Bacaan Lainnya

Dalam laporan yang diterbitkan Kamis, IOM mengatakan bahwa eskalasi itu telah membuat 76.018 orang mengungsi, terutama di wilayah selatan Lebanon yang berbatasan dengan Israel. Lebih dari 80 persen pengungsi Lebanon itu tinggal bersama kerabat mereka, menurut laporan tersebut.

Hanya dua persen yang tinggal di 14 tempat penampungan kolektif yang tersebar di beberapa bagian selatan negara itu, terutama di kota pesisir Tyre dan di wilayah Hasbaya. Sisanya telah menyewa apartemen atau pindah ke rumah-rumah di daerah yang jauh dari perbatasan, kata badan PBB tersebut.

Kekerasan lintas batas telah menyebabkan 175 orang tewas di Lebanon, termasuk 129 pejuang Hizbullah dan lebih dari 20 warga sipil, termasuk tiga jurnalis, menurut hitungan kantor berita AFP. Di Israel Utara, sembilan tentara dan lima warga sipil tewas, menurut pihak berwenang Israel.

Hizbullah, yang melakukan operasi harian terhadap tentara Israel di perbatasan, mengatakan mereka melakukan intervensi untuk mendukung Hamas di Gaza.

Ketegangan semakin meningkat dengan serangan pada Selasa yang menewaskan orang nomor dua Hamas, Saleh al-Aruri, di kubu Hizbullah di Beirut Selatan.

Pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah memperingatkan bahwa pembunuhan itu, yang secara luas dikaitkan dengan Israel, “tidak akan dibiarkan begitu saja”.

Perang berkecamuk setelah Hamas menggelar Operasi Badai Al Aqsa pada 7 Oktober 2023 sebagai balasan atas pendudukan dan kekerasan yang dilakukan zionis selama bertahun-tahun. Serangan Hamas ini menewaskan sekitar 1.140 orang, menurut penghitungan AFP berdasarkan angka resmi.

Sementara, serangan balasan Israel terhadap Gaza telah menewaskan 22.438 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak, menurut kementerian kesehatan wilayah itu. [voa]

Jaringan: VOA
Editor: Anton Marulam

Total Views: 201

Pos terkait