Meski begitu Nailul menyoroti pengeluaran pemerintah di triwulan III tahun 2023 yang minus 3,76 persen. Padahal pengeluaran pemerintah di triwulan-II tumbuh 10,57 persen. Menurutnya, ini juga merupakan kebiasaan pemerintah yang tidak baik dengan selalu melakukan pengeluaran pemerintah secara jor-joran di akhir tahun.
“Artinya adalah fungsi pemerintah memberikan stimulus bagi perekonomian menjadi berkurang. Kalau dia minus artinya dia mengurangi pertumbuhan ekonomi. Kalau misalnya pertumbuhan ekonomi (PE) di triwulan-III itu 4,94 persen, pengeluaran pemerintah meskipun kecil tapi dia mempunyai dampak juga. Nah dia minus 3,76 persen artinya ketika tumbuh positif, atau nol saja seharusnya bisa lebih tinggi PE nya di 5-5,1 persen. Tapi ini malah minus artinya pengeluaran konsumsi pemerintah (yang minus) itu mereduksi pertumbuhan ekonomi,” katanya.
Nailul memproyeksikan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan pada tahun 2024 berada di kisaran 4,9 hingga 5 persen. Bahkan bisa mencapai 5,1 persen jika aktivitas Natal dan Tahun Baru memberi dampak positif yang cukup signifikan.
“Kalau 2024, (mungkin PE) di kisaran 5-5,1 persen, karena terdorong dari konsumsi pemilu apalagi kalau dua putaran. Ekspor impor tidak signifikan pengaruhnya (terhadap PE), karena kita kuat di konsumsi rumah tangga. Jadi kalau konsumsi rumah tangga digenjot, dan inflasi tetap terjaga rendah, maka PE di 5-5,1 persen cukup ideal,” pungkasnya. [voa]
Jaringan: VOA
Editor: Anton Marulam





