“Kejadiannya pesawat itu pada masuk awan. Jadi, tadi terbang formasi empat pesawat. Kemudian pesawat masuk awan, ya mereka berpisah, maksudanya jaraknya menjauh gitu, biar kalau enggak kan tabrakan ya, menjauh. Sudah menjauh, pada saat itulah dua pesawat tidak terkena apa-apa, dua pesawat jatuh karena kita tahu dari emergency locator transmitter-nya, ELT-nya menyala, tapi menyalanya tidak bersamaan, jadi mungkin tidak membuktikan bahwa itu tabrakan, tapi pesawatnya, kayaknya mungkin satu-satu, sendiri-sendiri kecelakaannya.”
TNI Angkatan Udara, kata Agung, telah mengirimkan tim yang akan menuju lokasi jatuhnya pesawat, guna mendapatkan data-data serta rekaman yang dapat menunjukkan penyebab kecelakaan pesawat.
“Besok pagi tim penyelidik investigasi, dari Puslaiklambangjaau (Pusat Kelaikan Keselamatan Terbang dan Kerja) akan terbang, akan menuju ke tempat lokasi untuk merekam dan mencatat, serta menginventarisasi bukti-bukti daripada, ataupun bahan-bahan yang diinvestigasi untuk kecelakaan ini kenapa, bagaimana. Tapi yang paling penting adalah mendapatkan flight data recorder pesawat, sehingga kita bisa mendapatkan rekaman suara, rekaman video, rekaman dan data-data penerbangan, dan juga data-data mesin pesawat dan sebagainya,” imbuhnya.
Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur telah menerjunkan tim berjumlah enam orang, untuk membantu melakukan pencarian dan evakuasi. Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jawa Timur, Gatot Soebroto, memastikan evakuasi telah dilakukan, dan lokasi kejadian jauh dari permukiman warga terdekat di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. [voa]
Jaringan: VOA
Editor: Anton Marulam





