Simbiosis Mutualisme
Pengamat Sepak Bola M Kusnaeni atau yang akrab dipanggil Bung Kus mengatakan memang kehadiran FIFA secara langsung di Jakarta menunjukan komitmen dan perhatian serius dari FIFA untuk mendukung dan membantu Indonesia dalam mengembangkan sepak bola nasional ke depannya. Namun, di sisi lain ia melihat bahwa ini juga merupakan simbiosis mutualisme antara Indonesia dan FIFA.
Bung Kus mengatakan, FIFA melihat Indonesia sebagai pasar yang sangat potensial untuk industri ini dengan jumlah penggemar sepak bola yang sangat banyak. Sebelum Indonesia, kata Bung Kus, FIFA sendiri telah melakukan sebuah studi kasus di China dan India negara yang mempunyai penduduk tertinggi di dunia.
FIFA membantu mengembangkan sepak bola kedua negara itu. Namun ternyata perkembangannya tidak sesuai dengan yang diharapkan, yang mana salah satunya antusiasme masyarakat di kedua negara itu tidak setinggi penggemar sepak bola di Indonesia sehingga bukan merupakan sesuatu yang bisa dibanggakan sebagai sebuah industri.
“Kalau Indonesia, FIFA melihat antusiasme masyarakat luar biasa. Apalagi kalau sudah menyangkut tim nasional, bahkan liganya saja luar biasa. Rata-rata penonton di Indonesia itu salah satu yang tertinggi di Asia. Jadi FIFA melihat bahwa ini negara memang gila bola, tapi mereka tidak tahu cara mengembangkan dirinya, mungkin bayangan FIFA seperti itu,” katanya.
“Maka dari itu, ayo kita masuk ke sana, supaya ini bisa jadi market baru sepak bola. Karena saya lihat di Eropa sudah agak jenuh FIFA, sulit berhadapan dengan dominasi klub-klub besar di sana,” imbuh Bung Kus.
Lebih jauh Bung Kus mengatakan tidak bisa dipungkiri bahwa selain sebagai regulator dan otoritas sepak bola, FIFA juga berperan sebagai profit maker, di mana penyelenggaraan Piala Dunia merupakan sumber profit bagi FIFA itu sendiri. Di luar event Piala Dunia senior, katanya, Piala Dunia usia muda tidak terlalu sukses diadakan di kawasan Eropa dan Amerika Latin.
“Sampai sekarang rekor tertinggi penonton kalau untuk Piala Dunia U-17 itu masih dipegang oleh India di 2017 dengan rata-rata 26 ribu penonton per pertandingan. Indonesia mungkin diharapkan FIFA bisa juga seperti itu dengan penonton meriah dan jumlah penonton tinggi,” katanya.
“Itu membuat Piala Dunia U-17 ada value-nya sehingga ketika di gelar lagi di tempat lain bisa dijadikan sebagai dasar bagi FIFA untuk katakanlah dalam tanda kutip berdagang kepada sponsor, kepentingan itu harus dipertimbangkan juga disamping FIFA juga serius bantu Indonesia,” ujarnya.
Bung Kus berpendapat kalau Indonesia sukses dijadikan salah satu pusat pertumbuhan sepak bola yang baru di luar Eropa, maka hal itu nanti akan mendorong potensi yang sama di benua yang lain. Minimal di anak benua lain di Asia.
“Jadi, dari sisi Indonesia ini memberikan manfaat yang cukup penting tapi di sisi yang lain kita juga tidak boleh menutup mata bahwa FIFA butuh Indonesia. Jadi ini semacam simbiosis mutualisme, saling menguntungkan,” pungkasnya. [voa]
Jaringan: VOA
Editor: Anton Marulam





