Pengetahuan tersebut memungkinkan sistem itu tidak hanya dapat membantu menavigasi ke area otak yang benar, namun juga mengetahui apa yang seharusnya terjadi pada setiap tahap prosedur, sehingga menjadikannya alat bantu pelatihan yang berharga.
“Jadi, apa yang sebenarnya kami coba lakukan adalah menerapkan teknologi kecerdasan buatan untuk mendukung ahli bedah dalam menjalankan operasi. Teknologi kecerdasan buatan ini sangat baik dalam mengenali berbagai hal, dan mampu mendukung ahli bedah yang mungkin kurang berpengalaman dalam memberi saran kepada mereka tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya,” imbuhnya.
Khan, yang juga terlibat dalam pengembangan perangkat lunak yang kini membantunya belajar, mengatakan sistem kecerdasan buatan ini telah menjadi alat yang berharga dalam pelatihannya.
Sistem ini juga dapat memberinya panduan langkah demi langkah selama suatu prosedur bedah, mirip dengan menghadirkan seorang ahli bedah senior dalam ruang yang sama.
“Saya kira, mungkin ada tahapan di mana saya bertanya-tanya, apakah saya sudah cukup melakukan bagian tertentu dari prosedur ini dan haruskah saya melanjutkannya? Memiliki alat bantu semacam itu memberi saya keyakinan lebih besar atas apa yang sedang saya lakukan,” jelasnya.
Menurut UCL, sistem tersebut dapat siap digunakan di ruang operasi dalam waktu dua tahun. [voa]
Jaringan: VOA
Editor: Anton Marulam






