Pemberian Pangan Lokal di NTT
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur, Thobias Messakh mengatakan prevalensi stunting di kabupaten tersebut turun menjadi 15,1 persen pada Agustus, dari 17 persen pada Januari 2023. Jumlah anak yang mengalami kurang gizi juga turun menjadi 34 anak.
Thobias mengatakan pencapaian itu tak lepas dari dukungan anggaran Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) Puskesmas yang memungkinkan pihaknya untuk melakukan percepatan penanganan stunting, termasuk dengan PMT.
Kegiatan pemberian makanan tambahan lokal bagi anak balita di Sabu Raijua, menurut Thobias, turut melibatkan pihak ketiga menyediakan menu makanan lokal bagi anak-anak balita dan ibu hamil.
“Rincian menu itu diberikan kepada pihak ke-tiga untuk menyediakannya. Ada penyedia yang misalnya sayur, buah-buahan, tetapi dalam waktu yang lama misalnya beras di drop (dipasok) untuk satu bulan,” jelas Thobias.
Kepala Puskesmas Bolou, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur, Neni T. Dj.Hello mengungkapkan pemberian makanan lokal ditujukan untuk 106 balita gizi kurang dan 20 orang ibu hamil dengan kurang energi kronis (KEK). Kegiatan itu dilakukan pada 27 Maret hingga 24 Juni 2023.
Makanan dikelola secara terpusat di Puskesmas sehingga mempermudah proses pengawasan. Setelah dikemas, makanan didistribusikan ke titik kumpul yaitu Puskesmas Pembantu (Pustu), rumah kader dan tempat posyandu di masing-masing desa dan kelurahan.
“Dan ada juga yang diantar langsung ke rumah masing-masing sasaran dengan alasan jarak rumah terlalu jauh dari titik kumpul dan tidak mempunyai kendaraan,”cerita Neni.
Dia menjelaskan dari kegiatan pemberian makanan tambahan lokal selama hampir 2 bulan itu sebanyak 88 balita mengalami perbaikan gizi yang ditandai dengan kenaikan berat badan. Sebanyak 18 balita masih dalam kategori gizi kurang, dan 12 ibu hamil sembuh dari kurang energi kronis. [VOA]
Jaringan: VOA
Editor: Anton Marulam





