Ilmuwan Libatkan Mantan Nelayan Perusahaan untuk Pulihkan Terumbu Karang

Seorang penyelam mulai kegiatan pemulihan terumbu karang yang rusak akibat penangkapan ikan menggunakan peledak atau memanen terumbu karang untuk dijual sebagai ornamen, 5 November 2014. (Foto: Universitas Hasanuddin)
Seorang penyelam mulai kegiatan pemulihan terumbu karang yang rusak akibat penangkapan ikan menggunakan peledak atau memanen terumbu karang untuk dijual sebagai ornamen, 5 November 2014. (Foto: Universitas Hasanuddin)

Syafyudin sendiri mengakui usaha untuk memulihkan karang di Kepulauan Spermonde itu panjang dan berliku. Ia mengatakan, nelayan-nelayan di Kepulauan Spermonde, dan beberapa pulau lain di Sulawesi, umumnya berwatak keras kepala. Mereka terbiasa mengeksplotasi sumber daya laut hingga habis, dan kemudian berpindah ke lokasi lain yang masih kaya sumber dayanya.

Mereka melakukannya dengan berbagai cara, termasuk menggunakan bahan peledak dan racun. Walhasil, karena kerusakan hebat dan eksploitasi berlebihan, terumbu karang di kepulauan itu berada dalam keadaan kritis.

Bacaan Lainnya

Syafyudin tidak gegabah menyerukan pemulihan terumbu karang di sana. Sejak 2000, ia mengirim sejumlah mahasiswa ke Badi, salah satu pulau di kepulauan itu untuk praktik lapangan. Pertemuan yang intens antara masyarakat kepulauan itu dan para mahasiswa Universitas Hasanuddin membuahkan keakraban.

Seiring perjalanan waktu, ia dan para mahasiswa bimbingannya berhasil menggerakkan hati masyarakat setempat untuk memulihkan terumbu karang, termasuk merangkul para nelayan yang dulunya dikenal sebagai perusak terumbu karang menjadi pegiat lingkungan. Pada 2007, ia bahkan berusaha memberdayakan masyarakat melalui budidaya karang hias.

Usaha pria yang meraih gelar doktor dari Institut Pertanian Bogor ini belakangan mendapat dukungan banyak pihak, termasuk Mars Symbioscience, anak perusahaan AS, Mars Incorporated, yang bergerak di bidang sains dan kesehatan. Dia juga mendapat dukungan dari Dana Konservasi Spesies Mohamed Bin Zayed, sebuah yayasan yang dipimpin Presiden Uni Emirat Arab Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan yang mempromosikan konservasi spesies di berbagai penjuru dunia.

Menurut catatan Greenpeace, luas terumbu karang di Indonesia mencapai 50.875 kilometer persegi, yang merupakan 18 persen dari total luas terumbu karang dunia dan 65 persen dari total luas kawasan yang disebut Coral Triangle, sebuah kawasan karang berbentuk segitiga di perairan tropis di sekitar Filipina, Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Kepulauan Solomon, dan Timor Leste.

“Coral Triangle Indonesia, Filipina, dan Indo-Pasifik pada hakekatnya harus dilestarikan agar warisan dunia di perairan atau lautan tetap terjaga untuk generasi mendatang. Saya pikir ini adalah upaya kecil yang dapat mempengaruhi dunia untuk melestarikan terumbu karang di masa depan,” Syafyudin.

Syafyudin kini melebarkan usahanya dari Pulau Badi ke dua pulau tetangganya, Barrang Lompo dan Samalona, yang terumbu karangnya mengalami kerusakan seluas masing-masing 2 dan 2,5 hektare. Ia berharap bisa membukukan keberhasilan yang sama di dua pulau tersebut.

Pria ini, yang pernah mendapat pelatihan ekosistem terumbu karang di Hawaii yang diselenggarakan lembaga nirlaba AS, The Nature Conservancy, berharap usahanya di Kepulauan Spermonde bisa mendorong para ilmuwan lain melakukan hal serupa di pulau-pulau lain, terutama yang berada di kawasan Indonesia Timur. [voa]

Jaringan: VOA
Editor: Anton Marulam

Pos terkait