Menangkap ikan dengan bahan peledak dan racun serta memanen terumbu karang untuk ornamen masih marak meski dilarang karena menghancurkan terumbu karang. Seorang ilmuwan di Universitas Hasanuddin, Makassar, punya strategi untuk menghentikan praktik ilegal dan memulihkan terumbu karang yang rusak.
Dua puluh tahun yang lalu, terumbu karang di perairan Kepulauan Spermonde di sepanjang Selat Makassar di Indonesia hanya terlihat seperti pecahan-pecahan karang yang tidak sedap dipandang mata. Para nelayan yang tak bertanggung jawab mengebom dan meracuni hamparan terumbu itu untuk menangkap ikan. Padahal, metode itu sudah dilarang oleh pemerintah dan pelaku dapat terancam hukuman penjara hingga enam tahun penjara.
Kini terumbu karang itu terlihat hidup dan berwarna, dan ikan-ikan pun mulai terlihat menggerombol di sana.
Di bawah bimbingan ilmuwan dan dosen Universitas Hasanuddin Syafyudin Yusuf, sejumlah nelayan yang dulunya kerap merusak terumbu karang untuk menangkap ikan kini justru sibuk merehabilitasi apa yang dulu mereka hancurkan. Mereka pun kini tak sungkan menyebut diri mereka pelestari lingkungan.
Syafyudin mengenang apa yang dilakukannya lebih dari 20 tahun lalu kepada para nelayan yang kini jadi “murid-muridnya” itu, sebelum mereka meninggalkan praktik penangkapan ikan yang merusak terumbu karang.
“Yang kita lakukan adalah mengubah pola pikir mereka, pelan-pelan, dengan penyadaran, dengan membangkitkan public awareness (kesadaran masyarakat, red),” kata Syafyudin.
“Awalnya mereka tidak percaya bahwa karang adalah mahluk hidup. Ketika kita perlihatkan gambarnya, videonya, akhirnya mereka tahu bahwa ternyata karang bisa bertelur. Ini poin penting bagi mereka untuk bisa mengubah image terhadap terumbu karang.”
Saat ini tercatat ada lebih dari 100 nelayan yang menjadi “murid” Syafyudin, dan dari jumlah itu ada sepuluh orang yang dulunya mempraktikkan penangkapan ikan yang merusak terumbu karang. Berkat bimbingan Syafyudin, para nelayan yang dulunya “nakal” itu kini bahkan menjadi “guru” bagi nelayan-nelayan lain untuk memulihkan terumbu karang.
Spermonde terdiri dari lebih dari 120 pulau kecil yang dipenuhi terumbu karang dan dari jumlah itu, 80 di antaranya berpenghuni. Syafyudin saat ini berhasil merestorasi terumbu karang di delapan pulau yang berpenghuni itu.
Pada 2009, hanya 2 persen dari terumbu karang di Spermonde yang masih dalam kondisi baik, menurut penelitian Universitas Hasanuddin Makassar, dan di Pulau Badi, tempat Syafyudin memusatkan usahanya, tiga hektare terumbu karang telah rusak. Syafyudin dan timnya, telah memulihkan 2,3 hektare terumbu karang di Pulau Badi.
Kerusakan terumbu karang itu tidak hanya karena metode penangkapan ikan yang merusak tapi juga didorong oleh lonjakan permintaan ikan dan karang eksotis.
Dahrin, salah seorang nelayan yang pernah melakukan praktik ilegal penangkapan ikan, kini menjadi aktivis lingkungan dengan bimbingan Syafyudin. (Foto: Dahrin)
Dahrin, salah seorang nelayan yang pernah melakukan praktik ilegal penangkapan ikan, kini menjadi aktivis lingkungan dengan bimbingan Syafyudin. (Foto: Dahrin)
Dahrin, salah seorang nelayan yang dibimbing Syafyudin, menceritakan alasan mengapa ia dulu melakukan praktik ilegal ini.
“Dulu itu sulit untuk mencari pekerjaan lain. Karena kita harus bertahan hidup, kita akhirnya terjerumus pada pekerjaan itu. Kita akhirnya terjerumus pada praktik pengeboman dan pembiusan,” ujar Dahrin.
Dahrin mengaku saat ini ia sering mengingatkan teman-teman sesama nelayan untuk memelihara terumbu karang demi menjaga kelestarian laut dan mempertahankan sumber mata pencaharian utama mereka.
Syafyudin, yang dikenal oleh nelayan setempat sebagai “Pak Ipul”, dan murid-muridnya berhasil memulihkan dua hektare terumbu karang yang hancur dengan memasang kerangka yang disebut Iron Spider Module (Modul Besi Laba-laba) untuk mendukung regenerasi karang. Di Pulau Badi sendiri, katanya, lebih dari 13.000 kerangka seperti itu telah terpasang.
Usahanya, bagaimanapun, awalnya mendapat tentangan. Mantan nelayan “nakal” yang kini juga menjadi konservasionis, Muhammad Arif mengenang bagaimana para nelayan setempat pada awalnya mengira cara Syafyudin akan menghilangkan mata pencaharian mereka.
“Kami pikir dia akan benar-benar menghancurkan karang dan hidup kami, tapi dialah yang mendidik kami bahwa karang sangat penting untuk kehidupan ikan. Jadi Pak Ipul memberi kami ilmu dan kesejahteraan kami meningkat dengan menjaga dan merawat terumbu karang,” kata Muhammad Arif.





