Kasus Gigitan Hewan Penyebar Penyakit Rabies di NTT Terus Bertambah

Seorang ibu menggendong anjingnya untuk mendapatkan vaksin rabies di Bali, Jumat, 7 Oktober 2016. (Foto: AP)
Seorang ibu menggendong anjingnya untuk mendapatkan vaksin rabies di Bali, Jumat, 7 Oktober 2016. (Foto: AP)

Cuci Luka Bekas Gigitan

Pemerhati rabies dari Rumah Sakit TC Hillers, Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, dokter Asep Purnama mengingatkan pentingnya untuk mencuci luka bekas gigitan hewan penular rabies dengan sabun. Sifat kimia dari virus rabies yaitu virus cepat mati dengan zat pelarut lemak seperti air sabun, detergen. Penderita juga perlu segera mendapatkan vaksin anti-rabies (VAR) dan serum anti rabies (SAR) sesuai dengan indikasinya.

“Di sini selama belum muncul gejala rabies kita berusaha mengobati, tapi sebelum mengobati harus dikasih tahu, kalau dilakukan secara dini tentu akan sembuh, ini sudah terbukti,” kata Asep Purnama dalam Sosialisasi Pencegahan dan Pengendalian Rabies di Pulau Timor Provinsi NTT, di kanal YouTube P2PM Kemenkes RI, Senin (12/6).

Bacaan Lainnya

“Tapi kalau dia terlambat datang, sudah sebulan setelah gigitan, dua bulan setelah gigitan, itu tetap kita kasih selama tidak ada gejala,” lanjutnya.

Menurut Asep Purnama, luka bekas gigitan harus dicuci dengan air mengalir dan sabun selama sepuluh hingga 15 menit. Namun ia mengingatkan untuk hindari mencuci luka. Ia juga mengimbau diberikannya antiseptik setelahnya.

Sejak tahun 2014 hingga Mei 2023, terdapat 73 kasus kematian pada manusia akibat rabies di Nusa Tenggara Timur.

Kasus rabies pertama kali ditemukan terjadi di Desa Sarotali, Kabupaten Flores Timur di Pulau Flores pada 1997 yang ditularkan oleh anjing yang dibawa dari Sulawesi. [voa]

Jaringan: VOA
Editor: Anton Marulam

Total Views: 518

Pos terkait