Warga ibu kota Sudan, Khartoum, melaporkan pertempuran hari Selasa (23/5), termasuk tembakan artileri, pada hari yang seharusnya menjadi hari pertama gencatan senjata yang akan berlangsung sepekan.
Angkatan Bersenjata Sudan yang dipimpin Jenderal Abdel Fattah al-Burhan dan Pasukan Dukungan Cepat yang dipimpin Jenderal Mohamed Hamdan Dagalo telah sepakat untuk menghentikan pertempuran mulai Senin larut malam. Keduanya dapat memperpanjang kesepakatan itu setelah periode tujuh hari pertama berakhir.
Banyak gencatan senjata terdahulu yang gagal di tengah-tengah berlanjutnya kekerasan.
Kesepakatan terbaru in muncul dalam perundingan d Jeddah, Arab Saudi, dan mencakup mekanisme pemantauan yang terdiri dari tiga perwakilan masing-masing dari Saudi, AS dan kedua kubu yang berperang di Sudan.
Utusan utama PBB di Sudan, Volker Perthes, Senin menyambut baik gencatan senjata itu pada pertemuan di Dewan Keamanan PBB.
“Saya meminta kedua pihak untuk mengakhiri pertempuran dan kembali berdialog demi kepentingan Sudan dan rakyatnya,” kata Perthes. “Kehidupan dan infrastruktur telah hancur. Rasialisasi yang kian besar akibat konflik ini berisiko memperluas dan memperpanjangnya, dengan implikasi pada wilayah tersebut.”






