Pemerintah Genjot Bangun Hunian Bersubsidi

Presiden Joko Widodo meresmikan Hunian Milenial Perumnas di Margonda, Depok, Jawa Barat, 13 April 2023. (Twitter/@erickthohir)
Presiden Joko Widodo meresmikan Hunian Milenial Perumnas di Margonda, Depok, Jawa Barat, 13 April 2023. (Twitter/@erickthohir)

Dorong Millenials Punya Rumah

Sementara itu, Ekonom CORE Indonesia Muhammad Faisal sependapat dengan pemerintah bahwa kebijakan ini bisa mendorong lebih banyak lagi kaum anak muda Indonesia untuk bisa membeli tempat tinggal mereka sendiri. Pasalnya, pada masa sekarang ini kecepatan kenaikan harga lahan dengan kenaikan pendapatan tidak berbanding lurus.

“Makin cepat pertumbuhan ekonomi, makin cepat juga naik harga lahannya. Sementara peningkatan daripada upah atau pendapatan tidak secepat itu, dan akhirnya generasi makin muda, itu semakin jauh gap antara harga rumah dengan income mereka. Artinya untuk bisa mendapatkan rumah kalau tidak ada solusinya makin lama makin tua untuk bisa beli rumah,” ungkap Faisal.

Bacaan Lainnya

“Dengan hunian vertikal ini dari sisi harga tentu saja jadi lebih miring, tapi dari lokasi kerja tidak jauh sekali. Sekarang itu, untuk punya rumah tapak yang murah harus jauh sekali. Jadi trade off, antara punya rumah dengan lahan di atas tanah, dengan kedekatan lokasi kerja. Jadi untuk bisa mengatasi itu salah satunya dengan hunian vertikal,” tambahnya.

Namun di sisi lain, ujarnya, pemerintah harus memperhatikan dengan seksama pengaturan terkait batasan kepemilikan lahan. Seperti halnya di negara-negara lain, Rancangan Undang-Undang (RUU) yang mengatur batasan kepemilikan lahan harus segera dibuat. Pasalnya, jika tidak diatur, maka bukan tidak mungkin harga-harga lahan akan diatur oleh para spekulan atau sekelompok masyarakat yang memliki modal besar untuk membeli lahan yang seluas-luasnya.

“Di banyak negara kepemilikan lahan itu banyak aturannya termasuk masalah luas. Jadi itu yang harus dilakukan oleh pemerintah. Kalau dulu di 2014 sudah pernah ada RUU yang mengatur batasan kepemilikan lahan, tapi RUU tidak lolos. Padahal itu bagus menurut saya untuk menahan laju kenaikan harga lahan. Sehingga kenaikannya tidak secepat sekarang yang membuat gap antara kenaikan harga lahan sama kenaikan pendapatan menjadi semakin lebar,” katanya.

“Ada yang dia beli lahan kemudian dianggurkan, disimpan untuk aset saja, tapi lahannya tidur, ini malahan merusak produktivitas. Bahkan di negara ASEAN, itu tidak boleh spekulasi lahan seperti itu karena membuat ekonomi menjaid tidak produktif,” pungkasnya. [voa]

Jaringan: VOA
Editor: Rusdianto

Total Views: 1131

Pos terkait