Natuna (Jurnal) – Para petani di Kecamatan Bunguran Utara dan Bunguran Tengah Kabupaten Natuna kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi.
“Pupuk bersubsidi terakhir kami terima tahun 2008 dan 2009 lalu. Seperti pupuk urea, pupuk SP dan KCL,” ujarnya Dasiman salah seorang petani di SP 3 Kecamatan Bunguran Utara, Rabu.
Dikatakan dia, dari sekian banyak petani pangan dan sayur di Bunguran Utara tersebut, banyak yang beralih kerja lain.
“Bahkan ada yang berhenti total karena sulitnya mendapatkan pupuk murah,” kata dia seperti dikutip Jurnal Terkini melalui portal Antara Kepri.
Kalau seperti ini terus, tambah dia, kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah mulai sirna. Sejumlah program dasar tidak berjalan dengan maksimal. Padahal peran dan fungsi pemerintah adalah untuk menyejahterakan masyarakat.
“Kami menilai, dinas teknis seperti Dinas Pertanian tidak mampu menyediakan pupuk subsidi. Padahal himbauan dari pemerintah pusat dianjurkan untuk swasembada pangan,” tambah dia lagi.
Dia meminta Pemkab Natuna mengambil langkah-langkah agar pupuk subsidi diterima petani.
“Tolong sampaikan ke pak Bupati atau yang mempunyai kepentingan, supaya segera mencari solusi terkait pendistribusian pupuk subsidi itu,” pinta dia.
Hal senada diungkapkan Baruli, petani di Desa Air Lengit kecamatan Bunguran Tengah mengaku, untuk mendapatkan pupuk subsidi, petani harus membayar uang dimuka terlebih dahulu ke Dinas Pertanian.
Setelah dana terkumpul terang dia, barulah pemerintah membeli pupuk subsidi yang ada di Provinsi. Sementara sistem bayar dimuka ini lanjut dia, dirasa cukup memberatkan petani.
“Artinya, petani tidak bisa mendapatkannya secara instan atau cepat, melainkan harus memesan terlebih dahulu. Sehingga petani harus merogoh kocek lebih dalam, karena harus membeli pupuk nonsubsidi yang harganya lebih tinggi,” terang dia.
Sumber: antarakepri.com





