Tasyakuran Sedekah Laut di TPI Jongor, Tradisi Sakral Nelayan Kota Tegal Kembali Digelar

Wali Kota Tegal, Dedy Yon Supriyono, Prosesi Larung Sesaji Nelayan Kota Tegal, Selasa (7/6). (Foto: Jurnalterkini.id/Supriyadi)

KOTA TEGAL, Jurnalterkini.id – Rutin setiap tahun tepatnya dibulan Muharam atau Sura, masyarakat nelayan Kota Tegal menjadi pusat perhatian karena pagelaran upacara adat yang kaya makna, yaitu Sedekah Laut atau Larung Sesaji.

Tradisi ini bukan sekadar tontonan budaya, melainkan ritual sakral yang menjadi puncak rasa syukur masyarakat nelayan setempat atas rezeki yang diperoleh dari laut.

Melalui kegiatan ini, masyarakat nelayan Kota Tegal merawat ikatan historis dan spiritual mereka dengan alam, sekaligus menghormati leluhur dan penguasa laut.

Larung Sesaji di pantai Kota Tegal menawarkan pengalaman unik, memadukan kearifan lokal, doa, dan kemeriahan budaya yang menjadi daya tarik utama pariwisata bahari di pesisir utara Kota Tegal. Tradisi ini menjadi penanda bahwa hasil laut tidak hanya dinilai secara ekonomi, tetapi juga secara spiritual dan budaya.

Tradisi tahunan sedekah Laut kembali digelar masyarakat nelayan Kota Tegal, dari tanggal 6 – 7 Juli 2026. Prosesi adat dipusatkan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pelabuhan Jongor yang menjadi denyut nadi pelayan setempat.

Sedekah Laut Nelayan Kota Tegal berlangsung meriah dengan kehadiran Wali Kota Dedy Yon Supriyono dan Wakil Wali Kota Tazkiyathul Muthmainnah. Turut hadir pula Forkopimda, Kepala Bank Indonesia, pimpinan perbankan, camat se-Kota Tegal, hingga tokoh masyarakat setempat.

Ketua Panitia, Eko Susanto, mengatakan bahwa dalam Larung Sesaji masyarakat akan berdoa sambil melarung sesaji ke tengah laut.

Dijelaskannya sesaji yang dilarung berupa kepala sapi beserta uba rampe komplit, mulai dari nasi dan ingkung ayam, buah-buahan, jajanan pasar, hingga rokok dan kopi.

Filosofi dari kepala dan kaki sapi yang dilarung disebutnya sebagai bentuk imbal balik antara manusia dengan laut.

“Ya maknanya itu tadi, jadi perwujudan bahwa imbal balik. Hasil laut kita ambil, kita juga memberikan sesuatu di laut,” jelasnya.

Ia menegaskan Larung Sesaji bukanlah praktik yang menyimpang dari ajaran agama, melainkan bentuk syukur dan kesadaran untuk menjaga kelestarian laut.

“Makna dari Larung Saji ini adalah perwujudan bahwa masyarakat mengucapkan syukur, selama bertahun-tahun mereka mencari nafkah di laut. Jadi bukan penyimpangan terhadap suatu ajaran agama, tapi suatu perwujudan syukur,” katanya.

Tak hanya itu, ia mengatakan Larung Sesaji juga membawa pesan pelestarian untuk masyarakat nelayan.

Menurutnya, masyarakat terus diingatkan bahwa laut adalah sumber kehidupan yang harus dijaga agar bisa diwariskan ke anak cucu.

“Karena ikan yang telah ditangkap yang dihasilkan itu juga perlu kita perhatikan. Sebagai nelayan, sebagai warga, kita harus menjaga ekosistem laut supaya laut bisa dipelihara. Jangan dirusak karena laut sebagai sumber kehidupan. Bisa diteruskan oleh anak cucu kita,” ujarnya.

Wali Kota Tegal Dedy Yon Supriyono mengapresiasi semua pihak yang terlibat dalam terselenggaranya Sedekah Laut Nelayan Kota Tegal. Menurutnya, tradisi ini bukan sekadar seremoni tahunan, tapi wujud syukur dan kebersamaan masyarakat pesisir.

“Acara ini mempererat rasa kekeluargaan antar nelayan, sekaligus jadi doa bersama agar laut memberi rezeki berlimpah dan nelayan selamat saat melaut,” ungkap Dedy.

Lebih lanjut, Dedy Yon Supriyono, menegaskan bahwa pemerintah kota akan terus berkomitmen mendukung kemajuan sektor kelautan dan perikanan. Dukungan tersebut diwujudkan melalui peningkatan sarana prasarana, penguatan ekonomi nelayan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pengembangan potensi wisata bahari dan budaya.

“Kami percaya bahwa ketika budaya terus dilestarikan dan ekonomi masyarakat semakin kuat, maka Kota Tegal akan semakin maju, sejahtera, dan berdaya saing,” ujar Dedy Yon dalam sambutannya.

Dengan dukungan pemerintah, panitia, dan masyarakat, Sedekah Laut 2026 bukan hanya menjadi ritual budaya, tetapi juga momentum untuk memperkuat identitas Kota Tegal sebagai kota bahari yang religius, berbudaya, dan berdaya saing. (Pry)

Total Views: 21

Pos terkait