“Rojo Tikus” Hadir di Demak, Teater Lingkar Angkat Satir Korupsi dalam Pakeliran Multidimensi Bersama Sujiwo Tejo

Demak, jurnalterkini.id — Teater Lingkar akan menghadirkan pertunjukan bertajuk “Rojo Tikus”, sebuah karya pakeliran multidimensi yang memadukan teater modern dengan kekuatan tradisi pedalangan Jawa. Pementasan ini menjadi perhatian karena melibatkan budayawan nasional, Sujiwo Tejo, dalam proses kreatifnya.

Bacaan Lainnya

Pertunjukan yang terbuka gratis untuk masyarakat tersebut akan digelar pada Sabtu, 9 Mei 2026, pukul 19.00 WIB di Stadion Pancasila. Pementasan disutradarai sekaligus didalangi oleh Sindhunata Gesit Widiharto.

Humas Teater Lingkar, Ario Bimo Gesit, mengatakan “Rojo Tikus” dirancang sebagai persembahan budaya yang memadukan unsur magis, kritik sosial, dan filosofi Jawa dalam satu panggung pertunjukan.

“Konsep pakeliran multidimensi ini menggabungkan berbagai cabang seni, mulai dari pedalangan, teater, hingga tari, dengan iringan musik yang memadukan instrumen diatonis dan pentatonis,” ujar Ario, (9/5/26)

Menurut dia, meski dikemas dengan pendekatan modern, pertunjukan tersebut tetap berpijak pada pakem tradisi sebagai fondasi utama. Pementasan ini juga mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Dalam pertunjukan tersebut, Sindhunata menjalankan dua peran sekaligus sebagai sutradara dan dalang, atau yang disebut “sutradalang”. Pendekatan ini disebut menjadi salah satu kekuatan utama pementasan karena mampu menghadirkan pengalaman teater yang menyatu dengan tradisi pewayangan.

Lakon “Rojo Tikus” mengangkat kisah satir mengenai sosok pemimpin korup bernama Tuan Wirog Bawono, yang digambarkan sebagai “tikus berdasi” dari Negeri Sahara. Tokoh tersebut diceritakan membangun kekuasaan melalui praktik-praktik kotor hingga melahirkan rezim bernama “Orde Tikus”.

Konflik mulai berkembang ketika Wirog Bawono berniat meninggalkan jalan korupsi dan kembali kepada nilai-nilai kebenaran. Namun, keinginannya itu justru mendapat penolakan dari lingkungan terdekat, termasuk sang istri, Queen Milly Cherry, serta para pengikut setianya.

Pergulatan batin tokoh utama semakin rumit ketika sosok mendiang ibunya hadir dalam mimpi dan memberikan nasihat moral. Di sisi lain, ia juga dibayangi leluhur kejam bernama Kakek Jinada yang terus mendorongnya bertahan dalam keserakahan dan kekuasaan.

Pertarungan antara nilai kebajikan dan kerakusan menjadi inti cerita yang sarat kritik sosial. Melalui pementasan ini, penonton diajak merefleksikan kondisi sosial dan politik, sekaligus menyaksikan pergulatan seorang pemimpin dalam menentukan jalan hidupnya: menuju kebijaksanaan atau tetap terjebak dalam lingkaran korupsi.

Teater Lingkar berharap pementasan “Rojo Tikus” tidak hanya menjadi ruang hiburan dan apresiasi seni, tetapi juga medium refleksi sosial yang mampu menggugah kesadaran publik melalui pendekatan budaya dan seni pertunjukan.(PH)

Total Views: 39

Pos terkait