Dari Koran ke Klik
Perjalanan jurnalistik Cak Iban dimulai awal 1990-an. Ia tumbuh di dunia koran harian, ketika berita disusun dengan disiplin waktu dan ketelitian berlapis. Ia pernah menulis dan menyunting di Harian Riau Pos, menjajal denyut ekonomi nasional di Majalah Warta Ekonomi dan Majalah Kapital di Jakarta, hingga mengelola tanggung jawab redaksional dan manajerial di media daerah seperti Harian Lantang di Batam.
Pengalaman itu membentuknya sebagai penjaga proses. Cak Iban memahami bahwa pers bukan sekadar produk berita, melainkan ekosistem nilai, ada akurasi di sana, keberimbangan, pun keberanian bersikap.
Ketika gelombang media siber datang, Cak Iban tidak menyingkir. Ia beradaptasi. Sejak 2014, ia dipercaya menjadi Pemimpin Redaksi BATAMTODAY.COM, lalu mendirikan J5NEWSROOM.COM pada 17 Agustus 2022, suatu tarekh yang menjadi simbol bahwa kemerdekaan pers harus terus dirawat, bahkan di era klik dan algoritma.
Kepada generasi wartawan hari ini, yang bekerja di tengah tekanan ekonomi, polarisasi, dan kebisingan digital, Cak Iban tidak menawarkan jalan pintas. Ia justru mengajak kembali pada nilai dasar profesi.
“Tetaplah menjadi wartawan yang profesional, berintegritas, dan kompeten,” terang dia, benderang.
Cak Iban mengibaratkan wartawan sebagai rajawali: burung yang berani terbang sendiri, menjelajah cakrawala luas, tidak takut pada langit mendung, bahkan pada gelap sekalipun. Rajawali tahu arah dan percaya pada sayapnya sendiri.
Dalam perumpamaan itu tersimpan pesan yang tegas, bahwa wartawan yang waras dan jujur adalah mereka yang tidak menggantungkan nurani pada kerumunan, tidak kehilangan arah oleh tekanan, dan tetap setia pada kompas etiknya, walau angkasa tengah muram.
Yang Ingin Dikenang
Di balik seluruh perjalanan profesional itu, Cak Iban diam-diam menyimpan harapan yang sangat sederhana. Jika suatu hari ia tak lagi menulis berita, ia tidak ingin dikenang sebagai tokoh besar atau wartawan legendaris.
“Saya cuma ingin dikenang sebagai sahabat, teman ngopi yang menyenangkan, teman diskusi, dan hamba Allah SWT yang dhaif.”
Tidak ada keinginan untuk meninggalkan monumen nama. Yang diharapkan hanyalah kehadiran yang membekas secara manusiawi, di meja kopi, pada ruang obrolan, dan dalam ingatan orang-orang yang pernah berjalan bersamanya.
Dalam dunia yang semakin riuh oleh opini dan kepentingan, kisah Cak Iban agaknya mengingatkan satu hal penting: pers tidak dibangun oleh mereka yang merasa paling bising, namun oleh mereka yang paling lama, paling setia, menjaga nilai…(*)
Penulis adalah Pengurus PWI Pusat, Budayawan Kepri dan Penerima PCNO






