Pakar: Pemerintah Bergantung Pada Bibit Sapi Impor
Sementara itu, Pengamat Pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Khudori mengatakan langkah atau kebijakan serupa pernah dilakukan oleh Presiden Joko Widodo dalam periode pertama kepemimpinannya namun gagal. Ketika itu, katanya, pemerintah menargetkan untuk mengimpor sapi perah sebanyak 300 ribu ekor per tahun, namun yang terealisasi hanya 3.000 ekor sapi saja.
Dengan pengalaman masa lalu yang gagal tersebut, Khudori memperingatkan pemerintah bahwa target dalam lima tahun ke depan ini tidak mudah. Pemerintah, katanya, perlu mempersiapkan beberapa hal penting seperti lahan luas untuk peternakan sapi dan pakan ternak dalam jumlah yang besar.
“Mencari lahan itu tidak mudah, kalau tidak disediakan pemerintah lalu swasta disuruh cari sendiri akan sulit. Sementara lahan adalah kebutuhan yang mutlak kalau ingin mengembangkan peternakan sapi, apalagi dalam jumlah besar. Mau tidak mau kita butuh sumber pakan yang continue yang harus disediakan lewat padang savana atau tempat menanam rumput yang menjadi sumber pakan yang continue yang setiap saat bisa disediakan dari lokasi yang tidak jauh,” jelasnya.
Lebih jauh, Khudori menyayangkan pemerintah yang memiliki ketergantungan dengan bibit sapi indukan impor. Padahal, katanya, jika dikembangkan dengan baik dalam jangka panjang Indonesia sebenarnya memiliki bibit sapi lokal yang tidak kalah dengan sapi impor seperti sapi Bali dan sapi Toraja.
“Kita tidak mencoba untuk mengembangkan breed atau bibit (sapi indukan) lokal yang sebetulnya kita punya banyak variasi bibit sapi lokal yang unggul. Cuma memang selama ini tidak ada yang peduli, akhirnya terjadi kawin silang, percampuran jenis dan seterusnya. Akhirnya terjadi penurunan kualitas,” ungkap Khudori.
“Salah satu yang bagus kan sapi Bali. Pertumbuhan dagingnya bagus, adaptasinya luas, beranaknya sering dibandingkan dengan sapi lokal lain. Tapi sapi Bali apakah punya bibit yang betul-betul murni saat ini? Saya tidak yakin karena informasi yang saya dapat, antara lain itu disebutkan sudah tidak murni. Hal itu ditunjukkan dengan berat sapi dewasa itu dari tahun ke tahun terus menurun,” jelasnya.
Menurutnya pengembangbiakan bibit sapi lokal harus terus digalakkan oleh pemerintah walaupun dibutuhkan anggaran dan riset jangka panjang. Hal ini, katanya, harus dilakukan karena negara-negara pengekspor sapi seperti Brazil, India, Australia, Selandia baru hingga Amerika Serikat tentu tidak ingin Indonesia mencapai swasembada daging dan susu sapi karena negara-negara itu akan kehilangan pasar yang sangat besar.
“Apakah Australia, Brazil, India atau Selandia Baru, lalu Amerika mau Indonesia itu swasembada sementara Indonesia pasar yang empuk buat mereka? Apakah mereka mau menyediakan bibit atau indukan sapi pedaging, sapi perah dalam jumlah besar? Dan, setelah sekian tahun nanti Indonesia bisa mandiri lalu mereka akan kehilangan pasar? Menurut saya tidak. Jadi kalaupun mereka akan menyediakan mungkin jumlahnya tidak besar,” katanya.
“Jadi dengan situasi seperti itu, mau tidak mau kita harus mengembangkan breed lokal untuk menutup impornya agar tidak semakin besar, tapi tidak bisa tidak. Kita harus menengok sumber daya lokal yang kita punyai,” pungkasnya. [voa]
Jaringan: VOA






